Tanggal 17 Juni 2016 pembagian
rapor atau karne di Turki. Tak terkecuali sekolahnya Fathima, anak saya.
Bagaimana hasilnya? Alhamdulillah, saya dikarunia anak yang bisa mengikuti
pelajaran dengan cukup baik. Anak yang penurut dan tidak membuat pusing…tunggu…
kalimat yang lebih tepat adalah “dan tidak terlalu membuat pusing gurunya” he
he he. Setidaknya kalimat “Fathima itu anak yang menyenangkan” pernah terucap
langsung dari sang guru.
Mengajar anak-anak yang sangat
aktif dan tak mau diam, seperti itulah pengamatan saya terhadap anak-anak kelas
1 G kelasnya Fathima, membuat saya bertanya bagaimana sang guru bisa bertahan
he he. Tidak ada yang pendiam, semua tampak aktif, ekspresif dan saya yakin
mereka sering membuat gurunya pening kepala ha ha ha, apalagi dengan komposisi
gende ryang tidak seimbang, hanya 8 anak perempuan berdampingan dengan 19 anak
laki-laki. Memang kelas Fathima memiliki siswa dengan jumlah yang paling
banyak. Kelas lain hanya sekitar 22-25 anak per kelasnya.
Dari dulu saya mengagumi
guru-guru sekolah dasar terutama mereka yang bertugas mengajar di kelas 1.
Meletakan pondasi baca tulis dan ikut mengenalkan lebih jauh nilai-nilai serta
norma sosial. Bagaimana mereka harus
berdamai dengan emosi, memupuk kesabaran dalam mendidik generasi penerus.
Mungkin ada yang berkomentar “itukan sudah tugas mereka, resiko pilihan menjadi
guru”. Ya itu memang tugas mereka, karena mereka guru. Yang saya kagumi di sini
adalah pilihan mereka menjadi guru dan mereka yang menjalankannya dengan baik. Mungkin ada mereka yang menjadi guru karena pilihan
terakhir atau daripada tidak ada pilihan lain, atau karena jadi guru itu enak,
murid libur ikutan libur, bisa aja ada yang seperti itu. Cuma saya berpikir
kembali, jika ada guru berpikiran sempit
seperti itu, rasanya ia tidak akan berhasil mendidik maupun mengajar dengan
hasil baik.
Ayah saya dari awal karirnya
menjadi guru, sampai ia pensiun sebagai seorang kepala sekolah SD, ia tetap
mengajar. Dan pilihannya adalah kelas 1. Entah berapa ribu siswa yang ia
berhasil ajarkan membaca. Saya tahu sendiri bagaimana sabarnya ia dikerubungi
anak-anak, mengajarkan membaca, menulis,berhitung,atau bahkan sampai mengurusi
mereka yang harus buang air di kelas. Demi uang kah? Profesi ini rasanya
terlalu kejam jika dikaitkan dengan uang,uang, dan uang. Karena guru itu
berhadapan langsung dengan manusia, bukan mesin sehingga mengerjakannya harus
dengan hati seutuhnya, harus mencintai anak-anak. Orang yang menjadi guru tapi tanpa
mencintai anak-anak, saya tidak bisa membayangkan bagaimana hasilnya.
Kembali ke gurunya Fathima.
Namanya Adem Iren, usianya mungkin baru di awal 30 tahunan, masih muda, bahkan
kata mia seperti belum menikah padahal anaknya sudah 2. Saya tidak banyak
bicara langsung dengan dia, seperti biasa masalah klasik saya, Turkce hehe he
tapi kalau lewat whatsapp cukup sering berkonsultasi tentang perkembangan
Fathima.
Saya sangat berterimakasih
padanya karena sekarang Fathima sudah bisa membaca dengan sangat lancar dan
cepat. Adem hoca berhasil mengajar anak saya membaca. Bukannya saya lebay atau
terkesan berlebihan, tapi Alhamdulillah ini sebuah keberhasilan besar menurut
saya. Seorang anak yang tidak mengenal huruf menjadi bisa membaca cepat dalam
waktu singkat..hmmm mashaAllah.
Guru Fathima guru yang baik,
cerdas,sederhana,humoris,kreatif, energik dan yang terpenting mencintai
anak-anak. Setiap pagi ketika saya mengantarkan Fathima sekolah dan jika kebetulan
Adem hoca sedang berada di gerbang sekolah, maka murid-muridnya akan
berhamburan dan berteriak “guruku, guruku” untuk kemudian berebut memeluknya. Saya
sering bertanya tentang gurunya pada anak saya, dan jawaban Fathima selalu
sama, guruku sangat lucu, dia membuat kami tertawa, dia baik, dia mencintai
kami, dan kami sangat mencintainya. Hmm anak Turki memang romantis :D
Ketika guru menyayangi muridnya
dan murid mencintai serta menghormati gurunya, maka saya yakin proses belajar
mengajar akan lebih mudah dan menyenangkan. Akhirnya saya memahami setiap nilai
yang berhasil diraih anak saya, rapor yang bagus, kemampuan membaca yang
mencengangkan, tidak semata karena anak saya anak yang pintar, ada seorang guru
yang hebat yang sabar mengajar dan mendidiknya. Tessekurler Adem Hoca.
Fathima çok tatli 💕💕
ReplyDeletetessekurler teyzesiii
Deletelagi2 pertanyaan saya, bisakah bapak guru adem itu diimpor ke antep? ^_^
ReplyDeleteeminim mak, Antepde var, iyi ogrentment onun gibi. ciyehhh jawab pake Turkce hahahah
DeleteAntepte var da ama ben çok ilfil.. naon deuih ieu teh ^_^ btw, i like ur new layout. fressshhh(y)
Delete