Fathima, ya nama anak saya
Fathima. Lengkapnya Manira Pearly Fathima Surucu. Nama yang sangat jarang serta
terlalu panjang untuk standar nama di Turki. Tapi nama ini ada sejarahnya.
Bukan karena semata-mata ingin bernama panjang melainkan nama ini merupakan nama-nama
yang membuat saya jatuh cinta. Apalagi Fathima adalah nama idaman saya sejak
SMP dulu. Gila kan anak SMP sudah punya persiapan nama buat anaknya di masa
depan. “Dewasa sebelum waktunya.” Ha ha…
Nama anak saya yang mendekati
nama Turki ya mungkin hanya Fathima, atau yang sangat mewakili nama Turki
adalah soyadinya, yaitu nama marganya ha ha.Kok bisa? Siapa yang kasih nama?
Babanya ga protes? Yang kasih nama tentu saja ibunya, bapanya kaga mungkin
ngasih nama sekeren itu xixixixi.
Jadi ceritanya begini. Waktu
hamil dan usianya sudah memasuki minggu ke 24an babanya belum punya nama juga.
Setiap ada waktu berkomunikasi dan ditanya mo ngasih nama apa jawabannya adalah
“kata anne namanya A saja” atau “kata abla nama B bagus”. Nah saya yang saat
itu masih labil dan galau (sekarang juga masih sih hehe) sebel banget dijawab
begitu. Emang ini anak sape misterrrr?
Kebetulan suami saya ini
pekerjaannya satu genre (pelem kaliiii) sama popeye
dan Sinbad, kontak telpon atau lewat internet itu tergantung sinyal dan
tergantung lama waktu perjalanan, jadi saya tentu saja berinisiatif dan dengan
bebas mencari nama.
Sampai pada saat melahirkan dan 2
minggu sesudahnya, babanya Fathima belum berhasil mendapatkan sinyal yang bagus
untuk memberikan nama. Dan karena sudah harus mengurus surat-surat dan
lain-lain saya dengan yakin memberikan nama itu.
Komen babanya tentang nama itu
adalah “nama yang bagus, bizim inci
Fathima,.” hehe iya dongggg. Manira adalah kata yang saya lihat dari kamus besar bahasa Indonesia (bak, nasionalismenya mantap ga hihi)
memiliki arti kepunyaan kami. Pearly zaten
biliyorsun (anda tahu) apa artinya. Dan Fathima, nama favorit saya itu tentu saja saya
ambil dari nama putri rosulullah SAW, dan setelah saya cari artinya ternyata juga berarti mandiri. Jadi deh nama Manira
Pearly Fathima menjadi nama resmi anak perempuan kami.
Anak saya secara fisik memang
tidak mirip dengan orang Turki. Gen saya lebih kuat ternyata. Hidungnya tidak
semancung bapaknya, matanya tidak kehijauan seperti sang kakek. Fathima lebih
mirip orang Asia. Jadi begitu menetap di Turki, dengan nama yang tidak
keTurki-Turkian dan wajah yang Asiatik justru menarik perhatian sekitar.
Saya sih tidak masalah kalau ada
orang Turki yang bertanya namanya kok Fathima atau kenapa tidak nama Turki? Yang
bikin bête adalah jika mereka keukeuh
memanggil Fatma atau Fadime. Saya sering protes tapi mereka keukeuh gitu. Akhirnya ya biarlah mungkin mereka sulit mengucapkan nama Fathima ketimbang Fatma.
Masuk TK, tidak ada masalah.
Teman-teman sekelasnya bisa memanggil nama Fathima dengan benar, bahkan mereka
tidak menyadari kalau anak saya ini termasuk orang asing. Tapi baru-baru ini,
setelah masuk SD ada satu dua hal sempat mengusik saya.
Ini sebenarnya kali kedua dia diprotes
temannya karena berbeda. Sebelumnya saya sering membuat bekal sekolah ala
Indonesia seperti bakso, somay, bakso ikan dan sejenisnya. Pada suatu hari,
bekal makanan anak saya masih lengkap. Tentu saya pun bertanya kenapa tidak
dimakan. Katanya, teman-temannya berkomentar: “itu makanan sudah berapa hari? Makanan
basi ya, bau sekali, aku mual, tutup..tutup.” Sejak saat itu, kalau saya kasih
dia makanan meski tidak berbau tapi kalau bukan makanan Turki, dia tidak berani
membuka kotak makanannya apalagi memakannya.
Saya sempat bingung, ingin
mengadukan ke gurunya, tapi belum tentu menyelesaikan masalah. Akhirnya yang
saya lakukakn adalah menguatkan Fathima. Memberinya rasa percaya diri sebagai
orang yang bukan Turk 100 %. Menjelaskan arti namanya dan betapa beruntungnya
dia terlahir sebagai orang Indonesia tapi juga seorang Turk dibanding dengan
teman-temannya. Betapa dia beruntung bisa lihat gajah, buaya dan hewan-hewan
lain yang tidak ada di Turki secara langsung di kebun binatang di Indonesia.
Bisa makan buah-buahan yang tidak ada di Turki, bisa naik pesawat melewati
beberapa negara, dan tahu Jakarta itu di mana. Dia juga harus beruntung karena
bisa merasakan berbagai jenis makanan,bisa merasakan enaknya kerupuk dan
lain-lain, bisa tahu beberapa kosa kata bahasa lain selain Turkce. Belum tentu
teman-temannya mengalami semua itu.
Sejauh ini, Fathima cukup mengerti dan tidak pernah mengeluh lagi. Saya
pun akhirnya memberikan bekal makanan versi Turki. Kasihan jugalah anak OT yang
tidak biasa mencium bau bawang putih berlebih entar malah pengsan lagi, pan
berabe hehe.
Pengalaman ini membuat saya sadar, bahwa tidak
hanya saya yang harus beradaptasi karena saya minoritas, tapi anak saya juga
harus dipersiapkan, karena mau tidak mau, suka tidak suka dia berbeda secara
penampilan fisik dan nama he he. Semoga Fathima bisa memahami dan bisa membawa
dirinya bergaul baik dengan mereka yang mayoritas selama itu dalam dan untuk
kebaikan.
No comments:
Post a Comment