Monday, May 30, 2016

Fathima bukan Fatma

Fathima, ya nama anak saya Fathima. Lengkapnya Manira Pearly Fathima Surucu. Nama yang sangat jarang serta terlalu panjang untuk standar nama di Turki. Tapi nama ini ada sejarahnya. Bukan karena semata-mata ingin bernama panjang melainkan nama ini merupakan nama-nama yang membuat saya jatuh cinta. Apalagi Fathima adalah nama idaman saya sejak SMP dulu. Gila kan anak SMP sudah punya persiapan nama buat anaknya di masa depan. “Dewasa sebelum waktunya.” Ha ha…

Nama anak saya yang mendekati nama Turki ya mungkin hanya Fathima, atau yang sangat mewakili nama Turki adalah soyadinya, yaitu nama marganya ha ha.Kok bisa? Siapa yang kasih nama? Babanya ga protes? Yang kasih nama tentu saja ibunya, bapanya kaga mungkin ngasih nama sekeren itu xixixixi.

Jadi ceritanya begini. Waktu hamil dan usianya sudah memasuki minggu ke 24an babanya belum punya nama juga. Setiap ada waktu berkomunikasi dan ditanya mo ngasih nama apa jawabannya adalah “kata anne namanya A saja” atau “kata abla nama B bagus”. Nah saya yang saat itu masih labil dan galau (sekarang juga masih sih hehe) sebel banget dijawab begitu. Emang ini  anak sape misterrrr?

Kebetulan suami saya ini pekerjaannya satu genre (pelem kaliiii) sama popeye dan Sinbad, kontak telpon atau lewat internet itu tergantung sinyal dan tergantung lama waktu perjalanan, jadi saya tentu saja berinisiatif dan dengan bebas mencari nama.

Sampai pada saat melahirkan dan 2 minggu sesudahnya, babanya Fathima belum berhasil mendapatkan sinyal yang bagus untuk memberikan nama. Dan karena sudah harus mengurus surat-surat dan lain-lain saya dengan yakin memberikan nama itu.

Komen babanya tentang nama itu adalah  “nama yang bagus, bizim inci Fathima,.” hehe iya dongggg. Manira adalah kata yang saya lihat dari kamus besar bahasa Indonesia (bak, nasionalismenya mantap ga hihi) memiliki arti kepunyaan kami. Pearly zaten biliyorsun (anda tahu) apa artinya. Dan Fathima, nama favorit saya itu tentu saja saya ambil dari nama putri rosulullah SAW, dan setelah saya cari artinya ternyata  juga berarti mandiri. Jadi deh nama Manira Pearly Fathima menjadi nama resmi anak perempuan kami.

Anak saya secara fisik memang tidak mirip dengan orang Turki. Gen saya lebih kuat ternyata. Hidungnya tidak semancung bapaknya, matanya tidak kehijauan seperti sang kakek. Fathima lebih mirip orang Asia. Jadi begitu menetap di Turki, dengan nama yang tidak keTurki-Turkian dan wajah yang Asiatik justru menarik perhatian sekitar.

Saya sih tidak masalah kalau ada orang Turki yang bertanya namanya kok Fathima atau kenapa tidak nama Turki? Yang bikin bête adalah jika mereka keukeuh memanggil Fatma atau Fadime. Saya sering protes tapi mereka keukeuh gitu. Akhirnya ya biarlah mungkin mereka sulit mengucapkan nama Fathima ketimbang Fatma.

Masuk TK, tidak ada masalah. Teman-teman sekelasnya bisa memanggil nama Fathima dengan benar, bahkan mereka tidak menyadari kalau anak saya ini termasuk orang asing. Tapi baru-baru ini, setelah masuk SD ada satu dua hal sempat mengusik saya.

Suatu waktu, ketika pulang dari sekolah anak saya tampak murung dan dengan nada sedih dia berkata. “Anne, kenapa namaku Fathima, inikan bukan nama Turki. Kenapa berbeda dengan teman-temanku? Mereka menertawakanku, apalagi ketika tahu nama lengkapku. Mereka juga mentertawakan namamu.” Anak saya yang sensitive itu pun bercucuran air mata.

Ini sebenarnya kali kedua dia diprotes temannya karena berbeda. Sebelumnya saya sering membuat bekal sekolah ala Indonesia seperti bakso, somay, bakso ikan dan sejenisnya. Pada suatu hari, bekal makanan anak saya masih lengkap. Tentu saya pun bertanya kenapa tidak dimakan. Katanya, teman-temannya berkomentar: “itu makanan sudah berapa hari? Makanan basi ya, bau sekali, aku mual, tutup..tutup.” Sejak saat itu, kalau saya kasih dia makanan meski tidak berbau tapi kalau bukan makanan Turki, dia tidak berani membuka kotak makanannya apalagi memakannya.

Saya sempat bingung, ingin mengadukan ke gurunya, tapi belum tentu menyelesaikan masalah. Akhirnya yang saya lakukakn adalah menguatkan Fathima. Memberinya rasa percaya diri sebagai orang yang bukan Turk 100 %. Menjelaskan arti namanya dan betapa beruntungnya dia terlahir sebagai orang Indonesia tapi juga seorang Turk dibanding dengan teman-temannya. Betapa dia beruntung bisa lihat gajah, buaya dan hewan-hewan lain yang tidak ada di Turki secara langsung di kebun binatang di Indonesia. Bisa makan buah-buahan yang tidak ada di Turki, bisa naik pesawat melewati beberapa negara, dan tahu Jakarta itu di mana. Dia juga harus beruntung karena bisa merasakan berbagai jenis makanan,bisa merasakan enaknya kerupuk dan lain-lain, bisa tahu beberapa kosa kata bahasa lain selain Turkce. Belum tentu teman-temannya  mengalami semua itu.

Sejauh ini, Fathima cukup  mengerti dan tidak pernah mengeluh lagi. Saya pun akhirnya memberikan bekal makanan versi Turki. Kasihan jugalah anak OT yang tidak biasa mencium bau bawang putih berlebih entar malah pengsan lagi, pan berabe hehe.


 Pengalaman ini membuat saya sadar, bahwa tidak hanya saya yang harus beradaptasi karena saya minoritas, tapi anak saya juga harus dipersiapkan, karena mau tidak mau, suka tidak suka dia berbeda secara penampilan fisik dan nama he he. Semoga Fathima bisa memahami dan bisa membawa dirinya bergaul baik dengan mereka yang mayoritas selama itu dalam dan untuk kebaikan.

No comments:

Post a Comment