Sudah dua hari ini saya merasa
menjadi ibu yang paling bahagia se dunia (mulai lebayyy), ibu yang paling
bangga. Penasaran ga kenapa? Penasaran dongggg..he he he. Fathima sudah bisa
puasa, bukan setengah hari tapi sehari penuh. Dari imsak sampai maghrib.
Alhamdulillah.
Usia Fathima masih 6,5 tahun,
belum lagi di Turki waktu puasa lebih lama dari Indonesia. Imsak jam 2.50 dan
iftar jam 20.20. Saya merasa tidak yakin dia akan mampu berpuasa. Tapi di hari
pertama saya mencoba membangunkan dia. Walaupun dengan susah payah. Ia bangun
dan sahur semaunya. Hari pertama itu ia hanya sanggup puasa sampai jam 12. Pas
jam istirahat jam 12.00 di sekolahnya ia pun makan katanya.
Hari berikutnya, ia tidak bisa
dibangunkan, dan saya sebagai ibu yang ga tegaan, akhirnya beneran ga mau
memaksa keras dia untuk bangun. Sampai seminggu lebih dia sama sekali tidak puasa. Apalagi di
kelasnya tidak ada anak yang puasa.
Dari awal puasa saya sudah
menjelaskan pada dia, bahwa kita akan menghadapi bulan ramadhan dan di bulan
ini semua muslim berpuasa. Kita harus bangun malam dan sahur serta baru makan
setelah iftar. Tapi Fathima mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan ajaibnya yang
terus terang tidak bisa saya jawab dengan baik. Alhamdulillah ketika hari anak
dua bulan lalu ada pameran buku, saya beli buku tentang puasa meski pada buku
itu tertulis jelas untuk anak usia 8 tahun. Dan ternyata berguna, saya suruh
dia baca buku itu, sedikit banyak saya yakin buku itu membantu dia mengenal
puasa.
Setiap berhubungan dengan
keluarga di Indonesia di bulan ramadhan ini, saya merasa cemburu karena anak
adik saya yang seumuran dengan Fathima sudah mampu puasa sampai mahgrib. Tapi
tetap saya tidak bisa memaksa Fathima untuk puasa, ya ga tega, apalagi dia hobi
ngemil sebentar-bentar minta wortel, minta buah, minta ayran, minta cake.
Jadinya saya hanya mampu berdoa semoga dia mau mencoba puasa.
Hingga sampai 3 malam lalu ketika
saya dibangunkan oleh Ayu untuk sahur, begitu sampai meja makan sosok mungil
kesayangan saya itu sudah duduk manis. “Kamu bangunkan dia yu?” Tanya saya pada
Ayu. “Dia bangun sendiri.” Begitu jawaban Ayu.
Saya kemudian bertanya pada pada
Fathima, “Anne, bende oruc tutmak
istiyorum, simdi yelim mi?” Ujarnya. Saya mulanya hanya menganggap ah pasti
ini hanya sampai dia merasa lapar lalu dia akan batalkan puasanya.
Waktu terus berjalan hingga
sampai jam 12 siang. Dia mulai bertanya kapan iftar tiba,dan tentu saya bilang
masih 8,5 jam lagi :D. Jam 3 sore dia kembali bertanya waktu iftar, dan saya
pun kembali menjawab sesuai hitungan waktu. Jam 5 sore dia mulai
mengusap-ngusap perutnya. “cavali karnim
benim cok aciktim” diye (perutku yang malang sangat kelaparan) :v Saya
bilang padanya, waktu iftar sudah dekat. Saya melihat keluar, ada anak-anak
yang sedang bermain di halaman apartemen maka saya yang biasa melarang dia main
di luar akhirnya mengizinkan dia keluar. Dia pun menjadi bahagia dan lupa akan
rasa laparnya.
Sejam kemudian Fathima kembali
masuk rumah. Dan tentu bertanya kapan iftar lagi, “kenapa, lapar ya?” Tanya
saya dijawab dengan anggukkan dia disertai usapan pada perutnya. “gordun mu? Fakir insanlar da oyle hissetiler.
Onlar icin yemek yok, o yuzden aciktilar.” Saya mencoba menerangkan dengan
Turkce semampu saya tentang bagaimana orang-orang yang tidak beruntung tidak
memiliki makanan dan kelaparan. Jawaban Fathima membuat saya terharu “insallah,
Allah menjauhkan orang-orang di seluruh dunia dari lapar dan kemiskinan.” Ahhh canim kizim benim.
Saya akhirnya menyarankan dia
membuka tabletnya, main games dan nonton film. Kemudian saya menambahkan
iming-iming bahwa dia akan saya belikan dondurma
(ice cream) untuk buka nanti.
Semangatnya kembali muncul meskipun tetap mengusap-usap perutnya :v .
Setelah perjuangan berat,
akhirnya untuk pertama kali anak saya tercinta itu berhasil menuntaskan
puasanya 17 jam 30 menit.
Alhamdulillah, pengalaman puasa
sehari penuh tersebut tidak membuatnya kapok, ia pun bangun pada hari
berikutnya, semangatnya semakin bertambah ketika Mubin abi, Muhsin abi, dan
teteh oeni aka Fida berjanji akan memberikannya hadiah jika berhasil
menyelesaikan puasa sampai akhir ramadhan nanti. Meskipun dia tetap merajuk
mengusap-usap perutnya ketika jam
menunjukkan pukul 17.00 hehehe.
Oruc tutmak icin tessekur ederim
kizim benim, ben seni cok gurur duyuyorum (terimakasih sudah berpuasa
anakku sayang, aku sangat bangga padamu).
Kalimat sakti yang juga menambah dia semangat berpuasa. Iam a proud mom, yes I am. J

No comments:
Post a Comment