Saturday, June 18, 2016

Tessekurler Hocam


Tanggal 17 Juni 2016 pembagian rapor atau karne di Turki. Tak terkecuali sekolahnya Fathima, anak saya. Bagaimana hasilnya? Alhamdulillah, saya dikarunia anak yang bisa mengikuti pelajaran dengan cukup baik. Anak yang penurut dan tidak membuat pusing…tunggu… kalimat yang lebih tepat adalah “dan tidak terlalu membuat pusing gurunya” he he he. Setidaknya kalimat “Fathima itu anak yang menyenangkan” pernah terucap langsung dari sang guru.

Mengajar anak-anak yang sangat aktif dan tak mau diam, seperti itulah pengamatan saya terhadap anak-anak kelas 1 G kelasnya Fathima, membuat saya bertanya bagaimana sang guru bisa bertahan he he. Tidak ada yang pendiam, semua tampak aktif, ekspresif dan saya yakin mereka sering membuat gurunya pening kepala ha ha ha, apalagi dengan komposisi gende ryang tidak seimbang, hanya 8 anak perempuan berdampingan dengan 19 anak laki-laki. Memang kelas Fathima memiliki siswa dengan jumlah yang paling banyak. Kelas lain hanya sekitar 22-25 anak per kelasnya.


Dari dulu saya mengagumi guru-guru sekolah dasar terutama mereka yang bertugas mengajar di kelas 1. Meletakan pondasi baca tulis dan ikut mengenalkan lebih jauh nilai-nilai serta norma sosial. Bagaimana mereka  harus berdamai dengan emosi, memupuk kesabaran dalam mendidik generasi penerus. Mungkin ada yang berkomentar “itukan sudah tugas mereka, resiko pilihan menjadi guru”. Ya itu memang tugas mereka, karena mereka guru. Yang saya kagumi di sini adalah pilihan mereka menjadi guru dan mereka yang menjalankannya dengan baik. Mungkin ada mereka yang menjadi guru karena pilihan terakhir atau daripada tidak ada pilihan lain, atau karena jadi guru itu enak, murid libur ikutan libur, bisa aja ada yang seperti itu. Cuma saya berpikir kembali, jika ada guru  berpikiran sempit seperti itu, rasanya ia tidak akan berhasil mendidik maupun mengajar dengan hasil baik.

Ayah saya dari awal karirnya menjadi guru, sampai ia pensiun sebagai seorang kepala sekolah SD, ia tetap mengajar. Dan pilihannya adalah kelas 1. Entah berapa ribu siswa yang ia berhasil ajarkan membaca. Saya tahu sendiri bagaimana sabarnya ia dikerubungi anak-anak, mengajarkan membaca, menulis,berhitung,atau bahkan sampai mengurusi mereka yang harus buang air di kelas. Demi uang kah? Profesi ini rasanya terlalu kejam jika dikaitkan dengan uang,uang, dan uang. Karena guru itu berhadapan langsung dengan manusia, bukan mesin sehingga mengerjakannya harus dengan hati seutuhnya, harus mencintai anak-anak. Orang yang menjadi guru tapi tanpa mencintai anak-anak, saya tidak bisa membayangkan bagaimana hasilnya.

Kembali ke gurunya Fathima. Namanya Adem Iren, usianya mungkin baru di awal 30 tahunan, masih muda, bahkan kata mia seperti belum menikah padahal anaknya sudah 2. Saya tidak banyak bicara langsung dengan dia, seperti biasa masalah klasik saya, Turkce hehe he tapi kalau lewat whatsapp cukup sering berkonsultasi tentang perkembangan Fathima.

Saya sangat berterimakasih padanya karena sekarang Fathima sudah bisa membaca dengan sangat lancar dan cepat. Adem hoca berhasil mengajar anak saya membaca. Bukannya saya lebay atau terkesan berlebihan, tapi Alhamdulillah ini sebuah keberhasilan besar menurut saya. Seorang anak yang tidak mengenal huruf menjadi bisa membaca cepat dalam waktu singkat..hmmm mashaAllah.

Guru Fathima guru yang baik, cerdas,sederhana,humoris,kreatif, energik dan yang terpenting mencintai anak-anak. Setiap pagi ketika saya mengantarkan Fathima sekolah dan jika kebetulan Adem hoca sedang berada di gerbang sekolah, maka murid-muridnya akan berhamburan dan berteriak “guruku, guruku” untuk kemudian berebut memeluknya. Saya sering bertanya tentang gurunya pada anak saya, dan jawaban Fathima selalu sama, guruku sangat lucu, dia membuat kami tertawa, dia baik, dia mencintai kami, dan kami sangat mencintainya. Hmm anak Turki memang romantis :D


Ketika guru menyayangi muridnya dan murid mencintai serta menghormati gurunya, maka saya yakin proses belajar mengajar akan lebih mudah dan menyenangkan. Akhirnya saya memahami setiap nilai yang berhasil diraih anak saya, rapor yang bagus, kemampuan membaca yang mencengangkan, tidak semata karena anak saya anak yang pintar, ada seorang guru yang hebat yang sabar mengajar dan mendidiknya. Tessekurler Adem Hoca.

5 comments:

  1. Fathima çok tatli 💕💕

    ReplyDelete
  2. lagi2 pertanyaan saya, bisakah bapak guru adem itu diimpor ke antep? ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. eminim mak, Antepde var, iyi ogrentment onun gibi. ciyehhh jawab pake Turkce hahahah

      Delete
    2. Antepte var da ama ben çok ilfil.. naon deuih ieu teh ^_^ btw, i like ur new layout. fressshhh(y)

      Delete