Sore itu seperti biasa, pukul
15.00 waktu Turki saya sudah berada di sekolah untuk menjemput sang putri
kesayangan. Tak lama kemudian dari jauh terlihat dia keluar menuruni tangga
dengan semangat sembari melambaikan tangan kanannya sementara tangan kirinya
memegang sebuat kantung plastik supermarket ternama di Turki. Dari jauh sudah
bisa tertebak kalau isi dalam plastik itu adalah bola.
Fathima segera memeluk lalu
menciumi saya bertubi-tubi, kalau sudah begitu saya tahu dia pasti takut
dimarahi atau diprotes mengenai sesuatu hal. Saya menduga ini pasti ada
kaitannya dengan bola dalam kantong plastik itu.
“Itu apa? Bola ya?”
“Mmm..iya Anne.” Fathima mulai
menunduk, menandakan dia takut saya melakukan sesuatu yang tentu saja sesuatu
yang tidak dia harapkan.
“Kamu beli? Tanpa Izin saya?”
Saya menuduh langsung, karena hari itu ada pameran buku di Sekolah, dan dia
sudah memilih 10 buku, saya pun memberikan uang lebih dari harga buku, takut
dia ingin menambah jumlah buku yang ingin dia beli. Saya fikir pasti sisanya
dia belikan bola itu.
“HayIr Anne, ben almadIm. (Tidak
Anne, saya tidak membelinya).”
‘Lalu, coba bilang dari mana bola
itu, saya tidak akan marah kok.” Setelah dapat garansi ucapan kalo saya tidak
akan marah. Akhirnya dia bilang.
“ Bola ini dari Umay, dia berikan
pada saya.”
“Kenapa?”
“Sebagai permintaan maaf.”
“Kenapa harus ngasih bola?”
“Karena Umay merasa bersalah,
tadi waktu jam bermain dia tidak memberi kesempatan saya bermain dengan bolanya,
dan saya pun jadi sedih lalu Umay minta maaf, lalu memberikan bola ini, katanya
bola ini boleh buat saya.”
“terus kenapa kamu terima?” Tanya
saya lagi.
“Karena Umay kan minta maaf, saya
harus memaafkan, dan tentu saja harus
menerima bolanya. Dan umay juga bilang dia masih punya bola di rumah, jadi
boleh kan saya terima bola ini ya Anne?”
Saya pun mengangguk. Dalam hati,
ah seandainya dunia orang dewasa se”ringan” dunia anak-anak yang dengan gampang
peka terhadap tindakan yang membuat orang lain sedih serta dengan gampang
meminta maaf dan mudah memaafkan pasti dunia ini akan damai sedamai-damainya.
Bola itu selalu dibawa oleh
Fathima setiap hari ke sekolah dengan
dimasukan ke dalam kantong plastik. Dimainkan bersama dengan teman-temannya. Di
simpan dengan baik di rumah.
Hari ini pun dia kembali membawa
bola itu ke rumah, dan seperti biasa dia membawa kembali tanpa kantong
plastiknya. Dibuang temannya, begitu kata dia tiap ditanya kenapa tidak
dimasukan lagi ke dalam kantong plastik.
Di jalan sepi sambil berjalan
menuju rumah dia selalu memainkannya, dia baru berhenti di jalan raya ketika
akan menyebrang. Kebetulan saat itu lampu merah, kami pun segera menyebrang begitu sampai, lampu hijau pun segera menyala sehingga mobil-mobil pun mulai
bergerak. Saat itu lah tiba-tiba bola terlepas dari tangan Fathima meluncur
dengan cepat ke arah mobil-mobil itu, dan tentu saja si bola itu terlindas salah
satu mobil yang dikendarai oleh seorang wanita. Fathima berteriak, reflek saya
menarik tangannya untuk tidak berlari ke jalan mengambil bola karena lalu
lintas sedang ramai-ramainya. Lalu menariknya berjalan.
“Sudah nanti kita buka
celenganmu, beli bola baru ya.” Saya mencoba merayunya karena anak saya yang
super sensitive dan agak lebay itu mulai menitikkan air mata. Tangan saya pun
menuntunnya ke arah market terdekat untuk membelikan es krim, pelipur laranya. Sambil menuju market saya tetap berusaha menghiburnya. Dan betul saja begitu
melihat es krim, riak senang kembali terlihat di matanya.
Ketika asik memilih-milih,
tiba-tiba ada suara memanggil-manggil. “kucuk kiz,kucuk kiz, ini bolamu.”
Seorang pria paruh baya membawa bola Fathima yang tadi sudah terlindas mobil.
Fathima
langsung teriak “Bolaku!” Sejenak saya terdiam, kaget, bingung. Kaget dan
bingung karena tidak menyangka ada orang yang menyusul kami sampai ke dalam
market dan membawakan bola dalam keadaan mulus tidak kurang suatu apapun.
Pria berwajah ramah itu
menghampiri kami dan memberikan bola ke tangan Fathima. “Pegang baik-baik ya
bolanya, jangan sampai lepas lagi.” Pesannya sambil tersenyum.
Saya, yakin masih dengan wajah
kaget saya segera tersadarkan untuk mengucapkan terimakasih. Pria itu kemudian meninggalkan
kami dan keluar dari market untuk kemudian masuk ke dalam mobilnya kemudian
berlalu.
Sampai saat menulis ini, terus
terang saya tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh si bapa itu. Harga bola
itu tidak seberapa, mungkin hanya 1 atau
2 TL saja, tapi mungkin karena dia sempat melihat raut wajah Fathima yang sedih
atau... entahlah saya tidak bisa menebak alasannya , tapi saya bisa menilai
sekilas kalau dia orang yang baik. Kebaikan kecil yang sangat bernilai besar. Allah
razi olsun buat bapak itu,semoga sehat dan bahagia selalu, disayangi oleh
anak-anaknya. Aamin!
keep writing maaak (y) :))
ReplyDeleteKecew
ReplyDelete