Wednesday, May 25, 2016

Nilai Sebuah Bola

Sore itu seperti biasa, pukul 15.00 waktu Turki saya sudah berada di sekolah untuk menjemput sang putri kesayangan. Tak lama kemudian dari jauh terlihat dia keluar menuruni tangga dengan semangat sembari melambaikan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang sebuat kantung plastik supermarket ternama di Turki. Dari jauh sudah bisa tertebak kalau isi dalam plastik itu adalah bola.

Fathima segera memeluk lalu menciumi saya bertubi-tubi, kalau sudah begitu saya tahu dia pasti takut dimarahi atau diprotes mengenai sesuatu hal. Saya menduga ini pasti ada kaitannya dengan bola dalam kantong plastik itu.


“Itu apa? Bola ya?”

“Mmm..iya Anne.” Fathima mulai menunduk, menandakan dia takut saya melakukan sesuatu yang tentu saja sesuatu yang tidak dia harapkan.

“Kamu beli? Tanpa Izin saya?” Saya menuduh langsung, karena hari itu ada pameran buku di Sekolah, dan dia sudah memilih 10 buku, saya pun memberikan uang lebih dari harga buku, takut dia ingin menambah jumlah buku yang ingin dia beli. Saya fikir pasti sisanya dia belikan bola itu.

“HayIr Anne, ben almadIm. (Tidak Anne, saya tidak membelinya).”

‘Lalu, coba bilang dari mana bola itu, saya tidak akan marah kok.” Setelah dapat garansi ucapan kalo saya tidak akan marah. Akhirnya dia bilang.

“ Bola ini dari Umay, dia berikan pada saya.”

“Kenapa?”     
                                           
“Sebagai permintaan maaf.”

“Kenapa harus ngasih bola?”

“Karena Umay merasa bersalah, tadi waktu jam bermain dia tidak memberi kesempatan saya bermain dengan bolanya, dan saya pun jadi sedih lalu Umay minta maaf, lalu memberikan bola ini, katanya bola ini boleh buat saya.”

“terus kenapa kamu terima?” Tanya saya lagi.

“Karena Umay kan minta maaf, saya harus memaafkan, dan tentu saja  harus menerima bolanya. Dan umay juga bilang dia masih punya bola di rumah, jadi boleh kan saya terima bola ini ya Anne?”

Saya pun mengangguk. Dalam hati, ah seandainya dunia orang dewasa se”ringan” dunia anak-anak yang dengan gampang peka terhadap tindakan yang membuat orang lain sedih serta dengan gampang meminta maaf dan mudah memaafkan pasti dunia ini akan damai sedamai-damainya.

Bola itu selalu dibawa oleh Fathima setiap hari  ke sekolah dengan dimasukan ke dalam kantong plastik. Dimainkan bersama dengan teman-temannya. Di simpan dengan baik di rumah.

Hari ini pun dia kembali membawa bola itu ke rumah, dan seperti biasa dia membawa kembali tanpa kantong plastiknya. Dibuang temannya, begitu kata dia tiap ditanya kenapa tidak dimasukan lagi ke dalam kantong plastik.

Di jalan sepi sambil berjalan menuju rumah dia selalu memainkannya, dia baru berhenti di jalan raya ketika akan menyebrang. Kebetulan saat itu lampu merah, kami pun segera menyebrang begitu sampai, lampu hijau pun segera menyala sehingga mobil-mobil pun mulai bergerak. Saat itu lah tiba-tiba bola terlepas dari tangan Fathima meluncur dengan cepat ke arah mobil-mobil itu, dan tentu saja si bola itu terlindas salah satu mobil yang dikendarai oleh seorang wanita. Fathima berteriak, reflek saya menarik tangannya untuk tidak berlari ke jalan mengambil bola karena lalu lintas sedang ramai-ramainya. Lalu menariknya berjalan.

“Sudah nanti kita buka celenganmu, beli bola baru ya.” Saya mencoba merayunya karena anak saya yang super sensitive dan agak lebay itu mulai menitikkan air mata. Tangan saya pun menuntunnya ke arah market terdekat untuk membelikan es krim, pelipur laranya. Sambil menuju market saya tetap berusaha menghiburnya. Dan betul saja begitu melihat es krim, riak senang kembali terlihat di matanya.

Ketika asik memilih-milih, tiba-tiba ada suara memanggil-manggil. “kucuk kiz,kucuk kiz, ini bolamu.” Seorang pria paruh baya membawa bola Fathima yang tadi sudah terlindas mobil. 

Fathima langsung teriak “Bolaku!” Sejenak saya terdiam, kaget, bingung. Kaget dan bingung karena tidak menyangka ada orang yang menyusul kami sampai ke dalam market dan membawakan bola dalam keadaan mulus tidak kurang suatu apapun.

Pria berwajah ramah itu menghampiri kami dan memberikan bola ke tangan Fathima. “Pegang baik-baik ya bolanya, jangan sampai lepas lagi.” Pesannya sambil tersenyum.

Saya, yakin masih dengan wajah kaget saya segera tersadarkan untuk mengucapkan terimakasih. Pria itu kemudian meninggalkan kami dan keluar dari market untuk kemudian masuk ke dalam mobilnya kemudian berlalu.

Sampai saat menulis ini, terus terang saya tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh si bapa itu. Harga bola itu tidak seberapa,  mungkin hanya 1 atau 2 TL saja, tapi mungkin karena dia sempat melihat raut wajah Fathima yang sedih atau... entahlah saya tidak bisa menebak alasannya , tapi saya bisa menilai sekilas kalau dia orang yang baik. Kebaikan kecil yang sangat bernilai besar. Allah razi olsun buat bapak itu,semoga sehat dan bahagia selalu, disayangi oleh anak-anaknya. Aamin!

Yah, ternyata banyak sekali hal-hal kecil yang bisa kita jadikan pelajaran, jika kita mau menyadarinya. Setuju ? (Tumben nulis serius he he)…

2 comments: