Assalamualaykum
Terinspirasi oleh postingan di sebuah grup mengenai
pelayanan kesehatan Rumah Sakit Pemerintah di Turki, saya jadi ingin berbagi
pengalaman.
Jika ada pertanyaan bagus mana
pelayanan Rumah Sakit Pemerintah dengan Rumah Sakit Swasta? Saya pikir
jawabannya tentu ada pada pengalaman dan “keberuntungan” seseorang. Kenapa
demikian? Bisa saja ketika dia berobat ke rumah sakit swasta dia menemukan
dokter yang sabar, pintar dan apalagi jika bisa berbahasa Inggris, tapi bisa
juga berlaku sebaliknya. Atau ketika dia pergi ke rumah sakit pemerintah
ternyata pasiennya banyak dan dokternya jutek, tapi bisa juga malah dapat dokter profesional dan menyenangkan.
Selama di Samsun, saya sudah
mencoba beberapa rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah, saya juga sudah
3 kali masuk ruang operasi di dua rumah sakit milik pemerintah,
Rumah sakit swasta lebih lengkap
fasilitasnya? Tidak juga. Ketika saya di operasi di rumah sakit Universitas, pasien-pasien
banyak berasal dari berbagai kota di sekitar Samsun. Ada yang dari Ordu,
Giresun, Sinop, Amasya, Zonguldak, kenapa? Karena seluruh rumah sakit baik
swasta maupun pemerintah di kota setempat merujuk mereka. Ada Profesor, guru
besar, dosen,di
rumah sakit Universitas ini karena OMU memiliki fakultas kedokteran, selain itu berbagaimacam fasilitas penunjang medis semua serba lengkap. Memang,
untuk pemeriksaan awal, mereka serahkan kepada para intern yang mengambil
spesialisasi, tapi ketika mereka menemukan hal yang serius segera hoca pun mengambil alih.
IGD Rumah Sakit Universitas OMU - Samsun
(photo by mas ullih)
Pengalaman itu pun terjadi pada
saya, ketika dokter intern menghadapi kasus jarang dan serius, tentu saja sang
hoca akan dipanggil, dan berhubung hoca tersebut juga merangkap dosen di fakultas
kedokteran maka biasanya dia bisa berbahasa Inggris dengan sangat baik sehingga
saya pun bisa mendapat keterangan yang dapat saya pahami.
Ruangan setelah operasi? Yang saya
dengar, standar ruangan untuk pasca operasi itu adalah sekamar dua pasien, dan
selama 3 kali operasi. Saya selalu berada di ruangan berstandar tersebut, jika ada ruangan pasca op 1 kamar 3 pasien berarti RSnya belum "upgrade" he he.
Saya pernah mengalami pendarahan
ketika kehamilan yang ke dua, akhirnya suami membawa saya ke rumah sakit B*y*K
A*ad*l*, kami sudah membawa hasill tes dari saglik oca yang menyatakan kadar
BHCG saya 800, tapi sang dokter, ketika saya bilang sudah pendarahan beberapa
hari, tidak menjelaskan apa-apa, malah meminta saya kembali hari senin untuk tes
BHCG, dan ternyata sebelum menginjak hari senin, saya mengalami pendarahan yang lebih hebat, sehingga akhirnya suami
membawa saya ke rumah sakit Ibu dan Anak untuk penanganan lebih lanjut.
Saya juga pernah control ke kardiyolog
salah satu rumah sakit swasta, saya malah diberi obat yang membuat saya tiba
tiba kedinginan ketika cuaca sedang panas-panasnya sampai harus diselimuti yorgan, dan akhirnya kembali kami pergi
ke rumah sakit pemerintah, sampai diketahui penyakit yang sebenarnya.
Pengalaman terakhir ke rumah
sakit swasta adalah sekitar sebulan setengah lalu. Ketika saya juga mengalami pendarahan untuk kehamilan ke 4 saya. Saya pergi ke m*d*c*l P*r*k
dengan harapan akan menemukan dokter yang tepat dan tidak ngantri. Sebelumnya, saya ambil randevu dulu agar tidak datang terlalu awal atau lambat, ternyata dalam jadwal randevu jam 2 siang,waktunya malah molor sampai jam 15.30. Setelah pemeriksaan standar
seperti USG, dokter malah meminta saya untuk melakukan tes darah keesokan
harinya karena jam kerja dia akan segera
berakhir. Keesokan harinya saking sebelnya saya mengambil keputusan untuk pergi ke rumah sakit
ibu dan anak punya pemerinta, dokter di sana malah menganjurkan saya dirawat untuk memonitor
pendarahan dan kehamilan saya, sayang sekali saya tidak setujui dengan
pertimbangan Fathima tidak ada yang menjaga. Akhirnya dokter memberikan saya
resep dan diwanti-wanti untuk kembali jika pendarahan semakin parah.
Dan benar saja, saya kembali
pendarahan dan memutuskan untuk ke rumah sakit universitas yang jaraknya lebih
dekat dengan rumah. Setelah melalui berbagai pemeriksaan, dokter Emel, dokter
yang mengoperasi saya 1,5 tahun lalu mengharuskan saya untuk operasi…lagi. Dr
Emel yang cantik dan Fasih berbahasa Inggris itu menjawab semua pertanyaan saya
dengan jelas dan ia pun berseloroh, “I don’t want to see you here anymore, two times
is enough for me to take care of u” he he saya juga nggak mau dok :D
Ada satu peristiwa di rumah sakit universitas yang menarik perhatian saya. Suatu hari saya pergi ke poli kardiyologi, Praktek dimulai jam 9.00, jam 9 kurang 15 sang dokter muda yang tampan muncul dengan senyum mengembang, sambil menyapa "GunaydIn" kemudian ia menanya kabar pasien yang kebanyakan para kakek dan nenek. Senyum yang saya rasa bukan dibuat-buat. Seorang nenek tiba-tiba menuju ke arahnya sambil membawa satu kantong plastik. "oglum, ben senin icin koyden samrisak getirdim" (nak, saya membawakanmu bawang putih dari desa)Saya sempat kaget, ada juga toh yang begini. Dari percakapan yang terjadi antara mereka, ternyata si nenek tersebut pasien lamanya, saya melihat kedekatan yang erat antara sang dokter dan pasien itu, den benar saja, begitu giliran saya diperiksa, dokter yang juga bisa berbahasa Inggris ini , benar-benar ramah dan detail dalam memeriksa, menjelaskan dengan sabar dan menjawab semua pertanyaan saya.
Ada satu peristiwa di rumah sakit universitas yang menarik perhatian saya. Suatu hari saya pergi ke poli kardiyologi, Praktek dimulai jam 9.00, jam 9 kurang 15 sang dokter muda yang tampan muncul dengan senyum mengembang, sambil menyapa "GunaydIn" kemudian ia menanya kabar pasien yang kebanyakan para kakek dan nenek. Senyum yang saya rasa bukan dibuat-buat. Seorang nenek tiba-tiba menuju ke arahnya sambil membawa satu kantong plastik. "oglum, ben senin icin koyden samrisak getirdim" (nak, saya membawakanmu bawang putih dari desa)Saya sempat kaget, ada juga toh yang begini. Dari percakapan yang terjadi antara mereka, ternyata si nenek tersebut pasien lamanya, saya melihat kedekatan yang erat antara sang dokter dan pasien itu, den benar saja, begitu giliran saya diperiksa, dokter yang juga bisa berbahasa Inggris ini , benar-benar ramah dan detail dalam memeriksa, menjelaskan dengan sabar dan menjawab semua pertanyaan saya.
Kesimpulannya, baik di rumah sakit swasta atau pemerintah pasti ada plus minusnya, namun berdasarkan pengalaman,saya lebih suka
berobat ke rumah sakit pemerintah, apalagi sudah lama ada online randevu,
tinggal daftar lewat internet, pilih rumah sakit dan dokter yang kita sukai melalui MHRS randevu online atau telpon ke 182 tinggal sebutkan nomor ID dan nanti sang operator akan mengarahkan kita. kita bisa ambil randevu jauh-jauh hari. Fasilitas?
Tinggal dicek rumah sakit pemerintah di sekitar Anda. Rumah sakit seperti
egitim ve arastirma hastanes memiliki fasilitas komplit, pun begitu
dengan rumah sakit universitas. Ngantri dikit untuk cek darah, rontgen, atau
tes-tes yang lain saya kira wajarlah, namanya juga banyak pasiennya. Dijudesin sekreter nya? tenang, dia ga gigit kok, mungkin saja ketika sedang bertugas banyak pasien yang nyeleneh sehingga dia kesal, asal dia tidak menghina pasien saja he he, kalo dirasa menghina, silahkan sikayet .
Jadi, jangan takut buat berobat
di rumah sakit pemerintah, selain banyak dokter yang terpercaya, juga bisa
menghemat kocek suami Anda. Hanya, jika Anda memiliki dana lebih memang tidak
ada salahnya berobat ke rumah sakit swasta, so pilihan ada di kantong Anda ;) tapi kalo saya sih, lebih suka memanfaatkan yang harus dimanfaatkan he hehe …
NOTE
GunaydIn : selamat pagi
GunaydIn : selamat pagi
Yorgan : selimut tebal mirip bed cover, bahkan lebih mirip kasur lantai he he
Hoca : guru
Sikayet : complain
sekreter : sekretaris
Sikayet : complain
sekreter : sekretaris

No comments:
Post a Comment