Dari sudut pandang saya sebagai orang yang lahir dan
dibesarkan di negara tropis, tinggal di negara 4 musim tentunya melahirkan
ekspektasi yang besar terhadap salju. Dalam benak saya dulu musim dingin itu
tiap hari turun salju dan numpuk gitu di mana-mana, ya mirip-mirip di film bule
aja. He he padahal kenyataannya tidak semua negera 4 musim itu musim dinginnya
bersalju, apalagi tiap hari bersalju.
Samsun, termasuk kota yang
bersalju sebenarnya. Tiap musim dingin datang, salju tak pernah absen menyapa.
Tapi sayangnya, salju tersebut turun lebatnya ya sering kali bukan di merkez (pusat kota) melainkan di
pegunungan dan bukit-bukit. Turun juga di merkez, namun kebanyakan sih tidak
berjejak. Bisa berjejak jika salju turunnya lebat terus menerus selama 2-3 jam.
Daerah-daerah
seperti Sali pazari, Ladik, havza, 19 mayis, Canik, yakakent, Bafra, Alacam, biasanya
salju berjejak karena daerah-daerah tersebut berada di dataran tinggi. Bahkan
di ladik ada kayak merkezi atau pusat
ski salju semacam elmadag di Ankara atau Uludag di Bursa.
Ladik - Akdag
Saya masih ingat ketika pertama
kali saya melewati musim dingin di sini. Suami saya saat itu sedang ada urusan
di luar jam 9 malam. Tiba-tiba dia telpon saya. “ look outside, you’ll see what
u’re waiting for, hurry up.” Saya fikir dia akan memberikan saya kejutan karena
saat itu besoknya adalah ulang tahun pernikahan kami. Begitu saya lihat
jendela, si putih itu pun berterbangan diantara cahaya lampu jalan. Saya
langsung berteriak “snow bey, snow…!”
Suami saya terdengar tertawa
dilanjutkan dengan selorohnya yang nggaak banget deh pokoknya he he “ok, so you’re
happy, I think I don’t have to give you any present for our anniversary
tomorrow.” Yehhhhh itu mah lain lagi
atuhhhhh canimmmmmmmm (sayang).
Balik lagi ke “persaljuan” ini. Meskipun termasuk sudah
sering memegang salju, tapi tiap salju itu turun, saya selalu merasa exciting,
terkesan norak kali ye, namun temen saya bilang jangankan kita yang pendatang,
pribuminya saja selalu exciting dan menanti salju alias sama-sama noraknya he
he. Jadi kalo sama-sama norak, yaaaa gak masalah kan? :D
Tahun ini pun demikian, kami
menanti salju dengan gregetan.Kami? ya kami, saya, Mia, Fida, Dilla dan hampir semua
mahasiswa Indo di sini menantikannya :D Apalagi setelah mendengar kota-kota
lain bersalju dan banyak teman uplot fotonya, waduhhhhh jealous habis deh
karena Samsun Cuma kebagian dinginnya doang.
Akhirnya yang dinanti datang
juga,salju turun dan kali ini lebat banget. Selama dua hari turun tidak berhenti disertai dengan
kencangnya angin laut, menambah dingin menusuk tulang. Sekolah dari TK sampai
SMA diliburkan selama 2 hari. Di sekitar rumah memutih, sayangnya tidak
cukup lama berjejak, meski salju tetap turun namun segera menghilang.
Fathima sudah ribut ingin main
bola salju dan membuat manusia salju, maka saat itu ketika salju sedang
deras-derasnya akhirnya saya memutuskan
untuk mengejar salju ke atas. Ya, di universitas 19 mei di bukit yang tidak
jauh dari rumah salju biasanya tebal dan bakalan asik buat main. Saya bersama
Fathima ditemani Mia yang sudah buat janji dengan anak-anak Indonesia yang
lainnya segera meluncur setelah mempersiapkan perlengkapan tempur seperti
sarung tangan, syal,dan topi. Tempat pilihan mereka adalah TIP fakultesi
(fakultas kedokteran) dengan pertimbangan karena jika harus masuk ke
fakultas-fakultas lain yang berada di
dalam area universitas maka diharuskan memiliki id card mahasiswa atau staff
dan karyawan OMU, sedangkan saya mah siapa atuh, hanya ibu rumah tangga yang
doyan salju hahahah..jadi saja pilihannya di tip, di sana tidak ada pemeriksaan
id card karena tip bersebelahan dengan rumah sakit OMU yang bebas untuk umum.
![]() |
Sampai di sana, ternyata belum
ada siapa-siapa. Hamparan salju yang memutih belum ada yang menyentuh. Ya…
siapa kali yang mau main salju saat hujan salju sedang deras-derasnya gitu
kecuali kami :D se tengah jam kemujian anak-anak Indo pun berdatangan, dan
dibawah lebatnya hujan salju kami bermain sampai hidung saya dan Fathima mulai
meler. Hujan salju semakin lebat, akhirnya meski belum puas saya memutuskan
untuk pulang karena khawatir Fathima akan kedinginan, namun tentu saja Fathima sangat tidak suka dengan keputusan saya
itu, akhirnya kami pulang ditemani dengan rengekan Fathima dan butiran salju yang
enggan berhenti. Salju..in sha Allah see you next winter.
.jpg)
.jpg)



Mbak klo sama maqamnya jalaluddin arrumi dekat gak mbak?
ReplyDelete