Friday, February 20, 2015

Mengejar Salju

Assalamualaykum ...
Dari sudut pandang saya sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di negara tropis, tinggal di negara 4 musim tentunya melahirkan ekspektasi yang besar terhadap salju. Dalam benak saya dulu musim dingin itu tiap hari turun salju dan numpuk gitu di mana-mana, ya mirip-mirip di film bule aja. He he padahal kenyataannya tidak semua negera 4 musim itu musim dinginnya bersalju, apalagi tiap hari bersalju.
Samsun, termasuk kota yang bersalju sebenarnya. Tiap musim dingin datang, salju tak pernah absen menyapa. Tapi sayangnya, salju tersebut turun lebatnya ya sering kali bukan di merkez (pusat kota) melainkan di pegunungan dan bukit-bukit. Turun juga di merkez, namun kebanyakan sih tidak berjejak. Bisa berjejak jika salju turunnya lebat terus menerus selama 2-3 jam.

Daerah-daerah seperti Sali pazari, Ladik, havza, 19 mayis, Canik, yakakent, Bafra, Alacam, biasanya salju berjejak karena daerah-daerah tersebut berada di dataran tinggi. Bahkan di ladik ada kayak merkezi atau pusat ski salju semacam elmadag di Ankara atau Uludag di Bursa.

Ladik - Akdag

Saya masih ingat ketika pertama kali saya melewati musim dingin di sini. Suami saya saat itu sedang ada urusan di luar jam 9 malam. Tiba-tiba dia telpon saya. “ look outside, you’ll see what u’re waiting for, hurry up.” Saya fikir dia akan memberikan saya kejutan karena saat itu besoknya adalah ulang tahun pernikahan kami. Begitu saya lihat jendela, si putih itu pun berterbangan diantara cahaya lampu jalan. Saya langsung berteriak “snow bey, snow…!”
Suami saya terdengar tertawa dilanjutkan dengan selorohnya yang nggaak banget deh pokoknya he he “ok, so you’re happy, I think I don’t have to give you any present for our anniversary tomorrow.”  Yehhhhh itu mah lain lagi atuhhhhh canimmmmmmmm (sayang).



Balik lagi  ke “persaljuan” ini. Meskipun termasuk sudah sering memegang salju, tapi tiap salju itu turun, saya selalu merasa exciting, terkesan norak kali ye, namun temen saya bilang jangankan kita yang pendatang, pribuminya saja selalu exciting dan menanti salju alias sama-sama noraknya he he. Jadi kalo sama-sama norak, yaaaa gak masalah kan? :D
Tahun ini pun demikian, kami menanti salju dengan gregetan.Kami? ya kami, saya, Mia, Fida, Dilla dan hampir semua mahasiswa Indo di sini menantikannya :D Apalagi setelah mendengar kota-kota lain bersalju dan banyak teman uplot fotonya, waduhhhhh jealous habis deh karena Samsun Cuma kebagian dinginnya doang.
Akhirnya yang dinanti datang juga,salju turun dan kali ini lebat banget. Selama dua hari turun tidak berhenti disertai dengan kencangnya angin laut, menambah dingin menusuk tulang. Sekolah dari TK sampai SMA diliburkan selama 2 hari. Di sekitar rumah memutih, sayangnya tidak cukup lama berjejak, meski salju tetap turun namun segera menghilang.
Fathima sudah ribut ingin main bola salju dan membuat manusia salju, maka saat itu ketika salju sedang deras-derasnya akhirnya saya  memutuskan untuk mengejar salju ke atas. Ya, di universitas 19 mei di bukit yang tidak jauh dari rumah salju biasanya tebal dan bakalan asik buat main. Saya bersama Fathima ditemani Mia yang sudah buat janji dengan anak-anak Indonesia yang lainnya segera meluncur setelah mempersiapkan perlengkapan tempur seperti sarung tangan, syal,dan topi. Tempat pilihan mereka adalah TIP fakultesi (fakultas kedokteran) dengan pertimbangan karena jika harus masuk ke fakultas-fakultas lain  yang berada di dalam area universitas maka diharuskan memiliki id card mahasiswa atau staff dan karyawan OMU, sedangkan saya mah siapa atuh, hanya ibu rumah tangga yang doyan salju hahahah..jadi saja pilihannya di tip, di sana tidak ada pemeriksaan id card karena tip bersebelahan dengan rumah sakit OMU yang bebas untuk umum.







Sampai di sana, ternyata belum ada siapa-siapa. Hamparan salju yang memutih belum ada yang menyentuh. Ya… siapa kali yang mau main salju saat hujan salju sedang deras-derasnya gitu kecuali kami :D se tengah jam kemujian anak-anak Indo pun berdatangan, dan dibawah lebatnya hujan salju kami bermain sampai hidung saya dan Fathima mulai meler. Hujan salju semakin lebat, akhirnya meski belum puas saya memutuskan untuk pulang karena khawatir Fathima akan kedinginan, namun tentu saja Fathima sangat tidak suka dengan keputusan saya itu, akhirnya kami pulang ditemani dengan rengekan Fathima dan butiran salju yang enggan berhenti.  Salju..in sha Allah see you next winter.

1 comment:

  1. Mbak klo sama maqamnya jalaluddin arrumi dekat gak mbak?

    ReplyDelete