Saturday, February 6, 2016

Omoooo..Anakku Sudah Masuk SD

Lama tak memperbaharui blog, seperti biasa rasa malas mendera dan terus bercokol  apalagi saya tipe orang yang harus menulis menggunakan computer, kalau lewat hp atau tablet rasanya ide mati semua. He he cari alasan padahal emang malesssnya luar biasa.

Selama beberapa bulan ini sejak akhir September memang hari-hari terasa lebih "indah" kenapa? Karena anak saya Fathima sudah mulai masuk SD. Yuhuuu sudah jadi pelajar, pelajar Indonesia di Turki, bisa jadi anggota PPI Turki gak yaaaaa ? hahahaa...

Sejak  Juni 2015 sebenarnya saya sudah rewel menyuruh suami yang saat itu kebetulan sedang cuti kerja, tapi berhubung ribet dengan urusan pulang kampong maka suami tidak sempat menghubungi sekolah lagi. Sempat terfikir ingin menyekolahkannya di sekolah swasta atau kolej, tapi ternyata harganya lebih dari lumayan dan kelasnya full day Jadi pilihan kami lebih baik memilih sekolah pemerintah, sementara ini.

Pulang dari Indonesia sekitar Agustus dan tentu jadi deg-degan apakah pendaftaran sekolah sudah ditutup atau bagaimana, saya sama sekali tidak tahu menahu dengan sistem pendaftaran SD di Turki. Beruntungnya, saya masih ingat tetangga apartemen pernah menjelaskan bahwa nama anak yang cukup usia SD yaitu mulai usia lebih dari 60 bulan akan terdaftar secara langsung di sekolah dasar berdasarkan alamat tinggal. Saya pun segera googling sekolah dasar yang berada dekat rumah, menemukan websitenya dan benar saja ada list calon nama siswa kelas 1. Begitu dibuka, setelah beberapa halaman nama Fathima pun tertulis di sana dan tanggal pendaftaran pun masih terbuka karena meskipun sudah terdaftar di SD tersebut tetap harus dilakukan registrasi ulang.

Bertemu dengan Erdal bey, asisten kepala sekolah yang mengurusi  hal-hal administrasi dan ternyata ia cukup fasih berbahasa Inggris sehingga mempermudah proses pendaftaran. Orangnya ramah dan tidak ragu untuk menjawab dan menjelaskan pertanyaan saya. Kami pun sedikit berdiskusi saling bertukar informasi mengenai system pendidikan di Turki dan di Indonesia.

Sistem pembagian kelas dilakukan dengan undian untuk kemudia diumumkan di website sekolah.  Fathima berada di kelas G di mana jumlah murid laki-laki dua kalilipat murid perempuan dan kelas dengan jumlah murid terbanyak 27 orang, sekolahnya hampir full day juga ternyata dimulai dari jam 8.30 sampai jam 14.30 tetapi guru kelas belum ditentukan, guru kelas baru akan ditentukan dengan undian di hari pertama masuk sekolah. hehe undian lagi :D

Pada hari H masuk sekolah, guru kelas satu berbaris, saya pun mengamati wajah guru-guru dengan penuh harap Fathima akan mendapatkan guru yang tepat. Beberapa guru tampak senior, ada yang berwajah judes, ada yang berjilbab, ada yang berwajah sayu, ada yang muda, ada yang super duper sexy ber hak tuinggi, ber rok muini dengan make up tebal, sampai saya berfikir ini guru atau model hehe. Aahhh kira kira yang mana yang akan menjadi guru anak saya sambil berdoa semoga Fathima mendapatkan guru yang klik dengan hati saya.

Undian pun dimulai, sejauh itu saya cukup lega karena guru yang menurut pandangan saya tidak cocok ternyata tidak mendapatkan kelas Fathima. Giliran yang  ke lima, seorang guru pria muda berusia sekitar 30 tahun mengambil kertas, berucap dengan suara lantangnya “bir G”  yup, Adem hoca (adem hoja red.) telah ditakdirkan untuk menjadi guru anak saya selama 4 tahun ke depan In sha Allah. ya 4 tahun kedepan, sistem pendidikan di Turki memiliki sistem pendidikan 4-4-4, 4 tahun ilk okul (SD), 4 tahun orta okul (SMP), dan 4 tahun lise (SMA).Selama SD, dari kelas satu sampai kelas empat akan dididik dan diajar oleh guru yang sama. selama sebulan orang tua diberi kesempatan untuk pindahkelas, jika mereka tidak puas dengan guru atau kondisi kelas.

Saya mulai memperhatikan dari cara  Adem hoca mengumpulkan anak-anak, membimbingnya menaiki tangga.  Secara otomatis saya membandingkannya dengan guru kelas satu yang lain, saya cukup bernafas lega karena Adem hoca terlihat lebih perhatian.

Orang tua kemudian dipanggil untuk memasuki ruang kelas anak-anaknya. Hari itu guru Fathima memberikan kesan yang baik dan membuat saya yakin anak saya berada di tangan guru yang tepat.
“Saya tidak ingin Anda berfikir,bahwa Anda menyekolahkan anak dengan tujuan untuk membuat mereka menjadi dokter, guru, polisi dan sebagainya, karena bagi saya yang terpenting adalah mendidik mereka untuk menjadi ‘manusia’.” Suatu pemikiran yang bernilai tinggi untuk memulai sebuah pendidikan yang tidak hanya melulu tentang akademik namun juga sebuah pendidikan tentang bagaimana “memanusiakan” anak-anak kita.



2 comments:

  1. mudah2an si anwar (anak warteg alias si kembar) juga dpt guru spt bpk Adem, yang selalu bikin adem.

    skrg br namanya öğrenci yaa, bukan bebek lagi hehehe

    ReplyDelete