Sunday, February 7, 2016

Dan Ia pun Bisa Membaca ...

Pulang ke Indonesia tahun lalu menyisakan rasa sedikit tidak tenang terutama tentang kemampuan membaca Fathima. Selama 2 tahun di TK, sama sekali baca tulis tidak diajarkan. Sementara begitu ke Indonesia anak adik saya, sepupu Fathima yang seumuran sudah pandai membaca dan menghitung sampai penambahan ratusan meskipun masih TK.


Beberapa teman dulu sempat menasihati saya untuk mengajarkan membaca kepada anak, tapi kemudian saya berfikir, lha di Turki ini kan ada huruf-huruf khusus yang tidak terdapat pada huruf latin standar, terus terang saja saya tidak menguasai pelafalan huruf-huruf khusus tersebut apalagi bahasa Turki saya juga begini begini saja hehe.

Sempat cemburu,sempat kesal, karena beberapa kali mencoba, Fathima tidak menunjukkan keinginan untuk belajar membaca. Dia lebih suka menggambar dan tentunya bermain. Akhirnya saya menyerah, ya sudahlah biarkan saja begini. 

Ketika masuk SD, dan mulai belajar mengenal huruf, merangkai suku kata, mulai dari e, el, ele, ela, el ele, awal-awal mudah. Semakin ke sini mulai mengenal huruf a, t, o,m, ternyata saya kesulitan, apalagi dengan beberapa kata yang saya sendiri tidak mengerti. Saat itulah saya merasa menjadi ibu terbodoh di dunia. Makan bangku sekolahan di Indo, tapi tidak bisa mengajarkan anak saya membaca. Saya benar-benar putus asa, sampai sempat berfikir untuk mengirimnya ke etut (bimbel).

Saya mulai merasa ketakutan kalau Fathima akan susah untuk membaca. Beruntungnya, Adem hoca membuat grup whatsapp orang tua dan guru kelas 1 G. Di grup itulah kami membahas tentang kesulitan-kesulitan anak, Pak Adem juga berperan aktif dengan menggadakan pertemuan orang tua wali hamper se bulan dua kali, belum lagi seusai jam sekolah berakhir, dia pun dengan ramah melayani semua bentuk keluh kesah orang tua murid.

Berhubung Turkce saya terbatas (kali ini saya benar-benar menyesal tidak ambil kelas Tomer ketika harganya masih murah hehe) saya hanya mampu berdiskusi tentang Fathima melalui whatsapp. Dan Alhamdulillah, ajaibnya, ternyata Fathima di sekolah tidak seperti yang saya bayangkan. Di rumah dia cenderung rese kalau belajar, sering lupa huruf dan susah membaca, tapi menurut gurunya justru kebalikannya. Hal itu diperkuat juga dengan hasil tes dikte yang sempurna. Saya sampai tidak percaya.

Keadaan semakin membaik ketika babanya Fathima cuti kerja. Karena otomatis yang bertugas membimbing Fathima adalah sang baba. Dia lebih cenderung sabar dibanding saya yang pemarah ini, belum lagi Turkce saya yang jauh dari sempurna ini menjadi penghalang saya untuk membantu Fathima belajar.  Saya serahkan semua urusan PR dan latihan membaca padanya.

Mulai belajar akhir September 2015, Alhamdulillah, akhir Desember 2015 Fathima sudah mampu menguasai semua huruf yang diberikan,dan Pertengahan Januari 2015 sebelum liburan musim dingin atau semester pertama, Fathima sudah bisa membaca. Selain di sekolah, dan diarahkan di rumah, Adem hoca juga menyarankan setiap orang tua siswa untuk mendowload aplikasi okuma yazma dari Niay soft di android. Aplikasi yang sangat bagus dan sangat membantu anak belajar menulis dan membaca, pokoknya aplikasinya bir numara deh.

Menjadi seorang ibu yang membesarkan anak bukan dengan bahasa Ibu menjadi boomerang buat saya. Turkce saya pas-pasan, Saya tidak langsung mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak saya, saya juga berbicara bahasa Inggris dengan suami tapi dengan catatan selama suami saya cuti kerja. Dalam 6 bulan, suami saya hanya berada di rumah sebulan.

Fathima tumbuh bersama televisi dan sekolah. Ia termasuk terlambat bicara. Ketika usia 18 bulan kami sempat ke Indonesia, dan usia 2 tahun balik ke Turki dengan perbendaharaan bahasa Indonesia yang tidak  banyak. Saya juga tidak konsisten berbahasa Indonesia dengan dia, ditambah saat itu kami masih satu apartemen dengan mertua, bahasa Indonesia menjadi kalah. Saya pun demi melancarkan Turkce, terpaksa berbahasa Turki. Dan akhirnya, ketika Fathima sekolah , saya jadi kerepotan. Terus terang saya frustasi he he he. Tapi Allah selalu memberikan jalan. Saya pun in sha Allah tetap semangat belajar Turkce.

Alhamdulillah, saya tidak harus memasukan Fathima ke bimbel, guru yang baik, yang selalu melakukan komunikasi dengan orang tua murid, sabar mengajar, dan kreatif, berperan sangat besar. Saya semakin kagum dengan guru kelas 1 (di Indonesia masihkah guru kelas 1 mengajar membaca?).

Terimakasih banyak untuk Adem hoca, dan semua guru di seluruh dunia yang telah mengajarkan anak membaca dan menulis, termasuk guru kelas 1 SD saya dulu. Ibu E, Suhaeni. Semoga ibu diberi kesehatan. Hayooooo, masih pada ingatkah nama guru kelas 1 SD Anda dulu? :D

2 comments:

  1. ibu Kundarsih, smg Alloh swt merahmati beliau. aamiin.

    eta ela ele.. masa eykeh disuruh baca juga sm si guru privat :v ente pikir eykeh anak kelas satu...

    ReplyDelete
  2. ahahhaaa...eta si el ele teh cara membaca juga buat yang tuna aksara mak...hahahhahaaa...

    ReplyDelete