Pulang ke Indonesia tahun lalu
menyisakan rasa sedikit tidak tenang terutama tentang kemampuan membaca
Fathima. Selama 2 tahun di TK, sama sekali baca tulis tidak diajarkan.
Sementara begitu ke Indonesia anak adik saya, sepupu Fathima yang seumuran
sudah pandai membaca dan menghitung sampai penambahan ratusan meskipun masih TK.
Beberapa teman dulu sempat
menasihati saya untuk mengajarkan membaca kepada anak, tapi kemudian saya
berfikir, lha di Turki ini kan ada huruf-huruf khusus yang tidak terdapat pada
huruf latin standar, terus terang saja saya tidak menguasai pelafalan
huruf-huruf khusus tersebut apalagi bahasa Turki saya juga begini begini saja
hehe.
Sempat cemburu,sempat kesal,
karena beberapa kali mencoba, Fathima tidak menunjukkan keinginan untuk belajar
membaca. Dia lebih suka menggambar dan tentunya bermain. Akhirnya saya
menyerah, ya sudahlah biarkan saja begini.
Saya mulai merasa ketakutan kalau
Fathima akan susah untuk membaca. Beruntungnya, Adem hoca membuat grup whatsapp
orang tua dan guru kelas 1 G. Di grup itulah kami membahas tentang
kesulitan-kesulitan anak, Pak Adem juga berperan aktif dengan menggadakan
pertemuan orang tua wali hamper se bulan dua kali, belum lagi seusai jam
sekolah berakhir, dia pun dengan ramah melayani semua bentuk keluh kesah orang
tua murid.
Berhubung Turkce saya terbatas
(kali ini saya benar-benar menyesal tidak ambil kelas Tomer ketika harganya
masih murah hehe) saya hanya mampu berdiskusi tentang Fathima melalui whatsapp.
Dan Alhamdulillah, ajaibnya, ternyata Fathima di sekolah tidak seperti yang
saya bayangkan. Di rumah dia cenderung rese kalau belajar, sering lupa huruf
dan susah membaca, tapi menurut gurunya justru kebalikannya. Hal itu diperkuat
juga dengan hasil tes dikte yang sempurna. Saya sampai tidak percaya.
Keadaan semakin membaik ketika
babanya Fathima cuti kerja. Karena otomatis yang bertugas membimbing Fathima
adalah sang baba. Dia lebih cenderung sabar dibanding saya yang pemarah ini,
belum lagi Turkce saya yang jauh dari sempurna ini menjadi penghalang saya
untuk membantu Fathima belajar. Saya
serahkan semua urusan PR dan latihan membaca padanya.
Mulai belajar akhir September
2015, Alhamdulillah, akhir Desember 2015 Fathima sudah mampu menguasai semua
huruf yang diberikan,dan Pertengahan Januari 2015 sebelum liburan musim dingin
atau semester pertama, Fathima sudah bisa membaca. Selain di sekolah, dan
diarahkan di rumah, Adem hoca juga menyarankan setiap orang tua siswa untuk
mendowload aplikasi okuma yazma dari Niay soft di android. Aplikasi yang sangat
bagus dan sangat membantu anak belajar menulis dan membaca, pokoknya aplikasinya
bir numara deh.
Menjadi seorang ibu yang
membesarkan anak bukan dengan bahasa Ibu menjadi boomerang buat saya. Turkce
saya pas-pasan, Saya tidak langsung mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak
saya, saya juga berbicara bahasa Inggris dengan suami tapi dengan catatan selama
suami saya cuti kerja. Dalam 6 bulan, suami saya hanya berada di rumah sebulan.
Fathima tumbuh bersama televisi dan
sekolah. Ia termasuk terlambat bicara. Ketika usia 18 bulan kami sempat ke
Indonesia, dan usia 2 tahun balik ke Turki dengan perbendaharaan bahasa
Indonesia yang tidak banyak. Saya juga
tidak konsisten berbahasa Indonesia dengan dia, ditambah saat itu kami masih
satu apartemen dengan mertua, bahasa Indonesia menjadi kalah. Saya pun demi
melancarkan Turkce, terpaksa berbahasa Turki. Dan akhirnya, ketika Fathima
sekolah , saya jadi kerepotan. Terus terang saya frustasi he he he. Tapi Allah
selalu memberikan jalan. Saya pun in sha Allah tetap semangat belajar Turkce.
Alhamdulillah, saya tidak harus
memasukan Fathima ke bimbel, guru yang baik, yang selalu melakukan komunikasi
dengan orang tua murid, sabar mengajar, dan kreatif, berperan sangat besar.
Saya semakin kagum dengan guru kelas 1 (di Indonesia masihkah guru kelas 1
mengajar membaca?).
Terimakasih banyak untuk Adem
hoca, dan semua guru di seluruh dunia yang telah mengajarkan anak membaca dan
menulis, termasuk guru kelas 1 SD saya dulu. Ibu E, Suhaeni. Semoga ibu diberi
kesehatan. Hayooooo, masih pada ingatkah nama guru kelas 1 SD Anda dulu? :D

ibu Kundarsih, smg Alloh swt merahmati beliau. aamiin.
ReplyDeleteeta ela ele.. masa eykeh disuruh baca juga sm si guru privat :v ente pikir eykeh anak kelas satu...
ahahhaaa...eta si el ele teh cara membaca juga buat yang tuna aksara mak...hahahhahaaa...
ReplyDelete