Tuesday, September 22, 2015

IAM A GELIN, AND NOW, I AM HAPPY

Membaca salah satu blog yang isinya tentang “nasihat buat para calon gelin”. Beuhhhh bahasanya berat amat yaaa, nasihat boooo :D Tadinya sih malas membaca karena saya sudah jadi gelin he he, tapi karena ada beberapa teman yang merasa “gicik” dengan tulisan itu saya pun jadi gatel heheh pengen garuk garuk aspal :p 


Sebenarnya sih bagus banget untuk mengingatkan para kandidat gelin, untuk lebih bersiap-siap mengarungi bahtera rumah tangga pernikahan beda negara agar tidak melulu membayangkan yang indah-indah. Karena pernikahan itu, kalo menurut saya ni ,mo nikah beda suku ke, sama suku ke, beda negara ke, atau beda jenis kelamin (ufffss itu mah harus AKA wajib yah aha), tetap merupakan perjalanan hidup  yang tidak akan selalu mulus dan tentu penuh liku-liku. Tapi yang menjadi masalahnya adalah semua yang diceritakan itu tidak melulu menjadi hal  yang negative dan menjadi momok yang ”mengerikan” dan memberikan kesan bahwa menjadi gelin Turki itu “menderitaaaa” oh nooooo.

Dulu saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan menjadi istri dari orang Turki, yang ganteng, tinggi,lucu,putih, dan baik hati hehehe ga pa pa dong muji suami sendiri :D Saya termasuk orang yang tidak membayangkan yang indah-indah, tapi juga tidak termasuk orang  yang siap menerima berbagai keadaan selepas menikah itu. Jadi ya, tetap saja saya kena semua jenis shock. Dari culture shock, in law shock, tetangga shock, sampe city shock. Mengeluh? Iyaaaa saya raja mengeluh, curhat di FB? Ohh tentu permisahhh, sampe alay banget deh..eit tapi sekali lagi jangan dikepoin, karena saya sudah insyaf :D

Jadi, kalo saya ditanya gimana dong perasaan menjadi seorang gelin itu? Jawaban saya “AMAZING” kenapa? Karena menikah, tergantung dari niatnya. JIka Anda menginginkan harta dan kenyamanan hidup niscaya ketika tidak mendapatkan itu sepenuhnya, kecewa akan sangat dalam dan hidup jauh dari bahagia. Masa  tujuan menikah buat kaya?. Jika Anda mengejar “kegantengan” anda menjadi lengah dengan situasi dan kondisi pernikahan yang jelas berbeda dari ketika anda menyendiri.

Apakah harus bermental baja jika menikah dengan orang Turki? Tidak perlu. Semua sudah suratan takdir dari Allah, dengan orang Turki atau siapapun kita tetap tidak boleh lepas berdoa dan bersyukur. Siapkan hati, dekatkan diri dengan sang pencipta, pahami arti pernikahan dan tujuan Anda menikah. In sha Allah semua cobaan bisa dilewati.

Pernikahan ala Turki memang terlihat keren, gaun-gaun pengantin putih yang elegan, photo prewedding yang wah, mobil pengantin yang romantis. Memang seperti itu adatnya. Tapi memang benar, kalaupun tidak ada yang seperti itu, kita harus siap. Kembali lagi, jadi lo mau nikah sama OT karena pernikahannya yang looks like pernikahan putri raja jaman dulu? Saya kira para calon gelin tidak sepicik itu lah. Saya termasuk orang yang tidak melakukan pernikahan ala Turki, apakah saya kecewa atau menderita karena itu? Oh tidak, karena memang ada banyak pertimbangan kenapa kami tidak melakukannya dulu.

Next, terus apakah Anda semakin ingin menikah dengan OT karena lihat sharingan FB teman-teman Anda yang jalan-jalan terus? Jalan-jalan ya? Hemm memang seru tuh kalo jalan-jalan di Turki, saya pernah mengunjungi beberapa teman di kota lain, dan Cuma berdua saja dengan anak saya he he. Kalau pun tidak bisa jalan-jalan ke luar kota, no worries lah, kota-kota di Turki itu cantik-cantik, ya setidaknya banyak taman buat nongkrong sambil makan kwaci, berdua dengan orang yang kita cintai,ohhhh itu sangat romantic, simple happiness namun jangan lupa, buang kulit kwacinya ke tempat sampah yaaa :D Tapi kalo ada rejeki ke luar kota atau luaar negeri why not lah, akan lebih romantic lagi  hahahaha.

Tentang rumah atau tempat tinggal setelah menikah? Sebelum menikah pastikan sang calon suami bilang bahwa kita akan tinggal di mana dan dengan siapa. Rumah di Turki itu biasanya berbentuk “apartemen”. Dan Kalaupun suami bilang kita akan tinggal dengan keluarganya baik berbeda lantai dalam artian kita pun memiliki rumah sendiri walau masih satu bangunan ataupun benar-benar tinggal dengan mertua dan keluarga suami, itu sudah konsekwensi kita. Toh dalam Islam, istri wajib mengikuti dan menerima tempat tinggal yang disediakan suami.

Tinggal dengan mertua memang bukan suatu hal yang cukup meng’enakan’. Tapi jika sudah keputusan suami ya kita harus turuti. Mertua Turki memang selalu ingin ikut campur, sebenarnya sih bisa dipahami karena tentu saja mereka menganggap gelin asingnya ini tidak bisa apa-apa, dan memang kenyataannya begitu (maksudnya apa yang harus dikerjakan oleh seorang gelin pan kita kaga tahu ya) hahaha jadi kalo dipikir sih wajar dia ikut campur. Tidak berbeda lah dengan mertua di Indonesia, cuma yang membedakan mertua perempuan di Turki lebih “kuat” posisinya he he. 

Upik Abu?ohhh asik dong kalo jadi upik abu bisa bernasib seperti Cinderella. Saya sangat tidak setuju dengan istilah upik abu buat gelin, pun kalo ada gelin yang bernasib “kurang beruntung” bukan berarti dia menjadi upik abu karena menikah dengan orang Turki. Bisa jadi karena kebetulan dapat mertua yang memang berkarakter kurang bagus? Yang begini mah ga hanya di Turki, di mana-mana bahkan di Indonesia juga pasti ada lah. Tapi memang orang sini itu senang bekerja, terutama pekerjaan rumah tangga. Rata-rata dikerjakan sendiri. Dan jika anda gelin yang lebih muda, maka biasanya tanggung jawab Anda terhadap mertua lebih besar dari gelin yang lebih dahulu. Apalagi kalo tinggal satu rumah, wajarlah bantu-bantu mertua, moso kita yang dilayani he he. Soal di marahi mertua? Kalo kata temen sih, ibu sendiri aja suka kesel, apalagi ibunya suami he he…Kalopun terjadi "perselisihan" atau ketidaknyamanan, coba dibicarakan dengan suami, dicari solusinya, dan kalopun tidak ada, tetaplah berdoa dan belajar menerima, karena  seperti kata Ricky Martin feat Meja, every endless night has a dawning day, every darkest sky, has a shining ray, Atau istilahnya RA Kartini "Habis Gelap Terbitlah Terang." ;)

Jika kebetulan suami kita dapat tugas di kota lain ataupun suami memutuskan untuk kontrak, jangan khawatir. Ga da yang salah dengan mengontrak. Cuma memang jangan berfikir bahwa semua orang Turki punya rumah sendiri. Nah gimana biar ga kaget, tanya dulu makanye sebelum nikah nenggg, kite mau tinggal dimane bang? Mo sama enyaknye abang ape mo ngontrak aje ato abang dah ade rumah sendiri? Gitu dongg biar kaga shock ntarnye he he he. Semuanya sih tentang kesepakatan aja.

Gelin gelin doyan nangis? Saya sih doyan haha soalnya saya mah orangnya sensitif, gampang tersinggung, melankolis pula,apalagi kalo kangen keluarga di Indo, kalo bahasa anak sekarang mah saya orangnya BAPER he he. Menangis itu hal wajarlah, bukan sesuatu yang harus dijadikan olokan. Dan kesannya tiap gelin yang posting photo bahagia ketika jalan –jalan itu sebenarnya palsu? Helllloooo how do you know, ketika dia jalan-jalan itu dia tidak bahagia? Semua orang ada saatnya bahagia dan ada saatnya menangis, itu dulu yang harus kita semua pahami. Jadi gelin pun demikian, tidak melulu bahagia, dan tidak melulu bersedih. Jika Anda mengharapkan dengan menikahi orang Turki Anda akan selalu bahagia, baru itu yang salah.

Saya pernah mengalami hal yang sangat menyedihkan. Ketika ibu saya meninggal dan saya tidak bisa berada di tempat saat itu, karena memang jauh dan beberapa kondisi yang tidak memungkinkan untuk pulang saat itu juga. Itu konsekwensi jika kita menikah dan dibawa oleh suami ke daerah yang jauh dari rumah orang tua. Menangis dan bersedih?iya . Menyesal? Tidak.

Suami orang Turki itu romantic hahaha, memang jika awal-awal pernikahan kita mo pergi kemana pun selalu diikuti suami atau keluarga suami. Ya alasannya masuk akal, secara kita orang asing, belum bisa bahasa mereka, dan susah nemuin orang yang bisa berbahasa Inggris apalagi di kota kecil. Tapi seiring berjalannya waktu bisa kok keluar sendiri, ke market, ke pasar, ke mall. Apalagi saya dan mereka yang suaminya bekerja di luar kota, semua saya kerjakan sendiri, dari urusan rumah, bank, sigorta, ke rumah sakit, jalan-jalan, all by my self, ga da tuh yang nguntitin. Ini semua hanya masalah bagaimana caranya kita bisa dipercaya dan bisa membuktikan bahwa kita itu bisa mandiri. Kembali lagi semuanya harus dibicarakan dengan suami dan membangun kepercayaan suami. Semua gelin di kota saya, sudah asik tuh melenggang sendiri ke mana-mana ;)

Orang Turki doyan jalan kaki. Dan ini saya sangat suka. Awalnya sih memang saya mengeluh, but seiring waktu u will love it. Kalo kemana-mana jalan kaki yang artinya menggunakan kendaraan umum, baik itu bis, angkot, ataupun tramvay, bisa lebih romantic hahaha berpegangan tangan dengan suami, itu sesuatu banget. Belum lagi transportasi di tempat saya tinggal itu sangat nyaman. Kalo punya mobil sendiri memang lebih baik, terutama kalo hujan he he, tapi kalo pun tidak sekali lagi no worries, jarak sekilo-dua kilo atau pun tiga kilo bisa kita lalui dengan bahagia kok, tempat jalan kakinya enak apalagi kalo jalan kaki di musim semi atau gugur, romantissssss he he. Ala bisa karena biasa lah ;)
Di sini ga da pembantu? Ya betul sekali. Semua orang mengerjakan sesuatu rata-rata sendiri. Di apartemen saya tinggal berbagai macam profesi,dari pegawai pos, guru, beberapa keluarga polisi, dokter, dietisyen,orang yang punya banyak dukkan, semua samaaaa. Bersih-bersih sendiri, atau kalo mereka repot ya minimal sebulan sekali panggil orang buat bersihin total he he, ya tapi kalo bisa sendiri, why not, lagian kan ga da kerjaan ini he hehe. Mertua memang suka rese kalo nemu debu dikit aja dan langsung protes biasanya. Kitanya yang harus bisa santai menghadapinya, dulu saya sering sakit hati kalo diprotes, sekarang mah cuek lah, rumah sendiri ini ha haa. Tapi tetep kalo ada yang mo datang mah memang harus kita beresin lah, masa gak malu kelihatan kotor ma tamu orang Turki? Harga diri bangsa nih sedang diperjuangkan :v Orang Turki memang kalo bertamu suka sampe malam, tapi saya suka mensiasati dengan sering menguap, terus pura-pura ngantuk gitu hahaha biasanya sih mereka suka terus rasa dan pamit pulang. Saya juga sangat suka menuangkan teh buat tamu-tamu, rasanya gimana gitu dan saya ga keberatan kalo saya ga sempet nuangin teh ke gelas saya sendiri, soalnya saya ga doyan minum teh hahahaha. Dan sekarang kalo mo ada tamu meski orang Indonesia misalnya saya jadi sangat suka bersihin rumah dulu, terus masak buat menjamu, semua itu menjadi hal yang biasa aja.Sebenarnya saya ni kagum banget sama cara mereka memuliakan tamu, bukankah dalam Islam juga ada adabnya, so kalo untuk memuliakan tamu, why not? Kan dapat pahala.

Selain ga da pembantu, memang di Turki nih ga da lah abang-abang jualan martabak, sate, atau mie tek tek. Mimpi kali yeeee. Jika ingin makan makanan tanah air,ya harus berjibaku sendiri memang. But don’t worry, you can do it bcos I can ha ha ha. Bahan pengganti memang harus dicari, kalopun tidak ada bisa beli lah dari mereka-mereka yang menyediakan kebutuhan bumbu Indo atau jalinlah hubungan baik dengan sesama WNI biar kalo pulang bisa nitip xixixixi. Sekali-kali beli dari temen-temen yang jual makanan yang sudah jadi juga ga pa pa lah, sekalian ikut mendukung bisnis mereka ;). Kalo kebetulan orang rumah ga suka sama bau masakan kita, karena kebanyakan masakan kita kan berbau gitu apalagi yang namanya terasi ma ikan asin, siasati saja digorengnya tengah malam buta, dini hari atau beli terasi yang udah mateng jadi ga perlu dibakar atau digoreng lagi, tinggal masukin aja ke masakan yang dah jadi, diaduk-aduk deh. Lagian sewajarnya sih, kalo kita tinggal di Turki ya memang harus berusaha bisa masak dan makan-makanan Turki.  Yang bahaya sih kalo suami tidak mendukung masakan kita, kalo sekedar komentar bau sih wajar, kalo sudah melarang, tinggal dibicarakan saja sih, ntar juga mereka paham. Bilang aja, do u love me or not? If u love me let me cook terasi. :v

Tentang gaji suami? Konon katanya kebanyakan di sini memang gaji suami dikelola oleh suami. Tapi jangan takut, semua keperluan kita diberikan kok bahkan banyak gelin yang diberi kartu kredit. Uang belanja pun dikasih. Ga kan dibikin sengsara deh he he. Tapi untuk kasus saya, kebetulan suami kerja di luar kota , ke sana ke mari dan tidak ada di rumah dalam jangka waktu 6 bulan, maka otomatis harus saya yang mengelola keuangan ha haha dan gajinya masuk ke rekening saya :p semua tergantung kondisi kok. Tinggal dibicarakan saja baik-baik. Toh memang sejatinya suami istri itu satu paket, duit suami ya duit istri, siapapun yang memegangnya, nah ini yang harus kita sepakati. Dan teman-teman se kota saya Alhamdulillah asyik-asyik aja, bisa jajan dengan bebas, hidup berkecukupan. Yang ga boleh itu memang berboros-borosan. Belajar mengencangkan ikat pinggang demi masa depan, itu mah harus.

Katanya suami Turki memang pencemburu, dan saya suka sekali dicemburui hihihi. Itu hal yang sangat positif. Cuma kembali lagi dalam bergaul kita memang harus jaga sikap, ga bolehlah pecicilan atau kegenitan sama cowok lain. Kita  mesti  berusaha menjadi istri yang baik dan membangun kepercayaan suami. FB saya memang masih ada teman-teman dari jaman SD dulu, berbagai gender, tapi karena suami percaya jadi ga da masalah. Saya juga suka nonton drama korea, dengerin tausiyah aa gym atau ustad mansyur, semua fine-fine aja. Toh saya tidak berinteraksi langsung dengan mereka. Jadi kembali lagi ke saling percaya tadi ;) Kalopun ada yang melarang sama sekali tidak boleh berhubungan dengan pria ya sebagai istri harus dan wajib kita patuhi dan itu bukan masalah besar sih kan setelah menikah itu dunia kita adalah suami dan anak ;) karena merekalah alasan kebahagian kita lagi pula kan tidak dilarang berteman dengan wanita. Tapi saya kira bukan pria turki saja, di Indonesiapun banyak lah baik yang suaminya tidak mengizinkan berinteraksi dengan lawan jenis di Fb ataupun kesadaran yang datang sendiri dari sang istri untuk tidak berteman dengan lawan jenis. Sebenarnya kalo dipikir-pikir ngapain pula kita senyum-senyum ke cowok asing? :D

Bahasa Turki? Kalo menurut saya sih susah ha ha ha, tapi kembali lagi ala bisa karena biasa lah. Perlahan tapi pasti in sha Allah kita akan bisa ngomong Turkce. Tapi bisa bahasa Turki bukan jaminan mertua atau keluarga suami tambah sayang, bagi saya hanya jalan menuju kelancaran komunikasi haha lagian aneh aja, tinggal di Turki tapi kok tidak bisa Turkce sedikitpun. Cuma ada cerita lucu nih, waktu saya belum bisa Turkce saya senyum-senyum aja dan merasa damai, tapi begitu tahu Turkce saya justru jadi ngeuh kalo ada omongan yang menyinggung hehe,tapi setidaknya kalo bisa Turkce kita bisa jawab omongan yang menyinggung itu dan bisa membela diri ;)

Tidak bisa Turkce dianggap bodoh? Tergantung siapa yang menganggap. Biasanya yang menganggap bodoh adalah orang yang bodoh :v jadi kalo gaul sama orang yang bodoh ya disangkanya sama :v haha maaf, tapi memang kalo kita ngobrol sama orang Turki yang dulunya tidak sekolah,kuper, terus orangnya asing ga berada di lingkungan kita, bisa saja kita dianggap bodoh . Tapi Alhamdulillah, lingkungan mertua saya, meski banyak teyze teyze yang tidak sekolah dulunya, mereka tidak menganggap saya bodoh karena saya tidak berbahasa Turki. Apalagi saya sempat mengajar anak-anak SMP dan SMA di sekitarnya belajar bahasa Inggris, plus saya bisa baca Al Quran, mereka kagum banget itu, padahal sih bacaan saya seadanya hahaah apalagi kalo yang sudah daebak gitu ya :D Jadi kalo dianggap oon sama orang asing mah don’t care aja, yang harus ditanggulangi jika dianggap bodoh sama keluarga suami atau tetangga. Ikut pengajian aja, atau rajin-rajin dah baca Alquran, begitu tahu kita bisa ngaji, dapet point bagus tuh ;)

Pulang kampong ga tiap tahun? Itu mah resiko pernikahan jarak jauh. Saya punya saudara nikah sama orang beda pulau di Indonesia, pulangnya tuh bisa 4-5 tahun sekali, padahal masih di Indonesia. Apa karena  mereka tidak mampu? Bukan, dua-duanya bekerja, gajinya besarlah, tapi mungkin banyak kondisi yang membuat saudara saya tidak bisa pulang tiap tahun. Namanya juga sudah berumah tangga. Jadi bukan berarti tidak pulang kampong tiap tahun itu menakutkan. Tenang aja, sekarang teknologi udah canggih man, skype or whatsapp will do lah. Kangen, homesick? Wajar…itulah seninya nikah sama orang jauh, dinikmati aja, bersyukur nomor satu, in sha Allah semua rasa kangen tertanggulangi. Kalo ga mau ada resiko, jangan dilakonin aja. Gampang kan?

Menikah itu ibadah ceuuuu. Niatnya diluruskan dulu. Resiko dan cobaan dalam pernikahan itu tidak menimpa orang-orang yang nikah ma orang Turki aja. Like what I said before, jika mo nikah ma cowok Turki karena ganteng, terus ingin kaya, ingin jalan-jalan ke luar negeri, itu udah salah. Kalo sudah berjodoh mah, harus di syukuri, Alhamdulillah bisa nikah, bisa beribadah dan berdoa jangan putus, biar rumah tangga kita  aman dan sejahtera, pun kalo ada cobaan kita sanggup menghadapinya.

Kultur rumah tangga di Turki sudah begitu, kita cuma punya dua pilihan, berusaha mendobraknya dengan menanggulangi semua perbedaan dan mencari solusi bersama suami, atau kita manut tapi melakukannya dengan ikhlas agar tetap bahagia. So, the choice is ours. ;)

Ga perlu bermental baja atau jadi wonder woman buat jadi gelin. Jadilah istri yang baik, yang pinter, mendekatkan diri pada Allah, berdoa dan selalu bersyukur, in sha Allah dipermudah dan bisa hidup bahagia. Tertarik jadi gelin? Yuuuuuuuuuu mariiiii lets join us ;)

important note :

you cannot generalize everything  just because your own and your closest friends  experience. :p









30 comments:

  1. daebak chingu (Y)
    semua itu ada ilmunya. klo hidupmu menderita krn kurang ilmu ya itu DL ya kan? hayuk ah belajar jd istri yang pinter ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap nulis pasti ada latar belakangnya. Sy nulis bukan krn sy merasa senior tentunya. Siapa sih saya? Hanya butiran debu hahaha

      Delete
  2. alhamdulillah, bhs turki saya ga pernah naik kelas, tp ga pernah dianggap bodoh.
    dari kecil jg sy hidup ga pernah punya asisten rt, semua dikerjakan sendiri. maklum, org kampung. alhamdulillah, tetap tertangani, meskipun kadang eh sering kalah oleh rasa malas hehe.
    I am also gelin, and I am happy, too!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan ini hanya hak jawab saya mba hehe, krn gelin dibawa bawa, maka saya pun bersuara. But why i turn into the bad one? Mohon mba,jika ada yg salah dari tulisan sy tolong dikoreksi :)

      Delete
    2. nambahin mbak. cemburu seorang suami thdp istri itu bagian dari iman. ada kok haditsnya. jadi malah perlu dipertanyakan jk suami2 itu tdk cemburu kpd istrinya hehehe.

      Delete
    3. Hehe iya betul mba, setuju banget. Saya suka malah klo dicemburui...

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Where i can join you sis... lol if you dont mind please give me your email or fb account
    Thanks sis

    ReplyDelete
  5. hi, mba. aku lagi dekat sama pria Turki dan anehnya dia sensitif bahas masalah hijab dan dia bilang aku gak boleh berhijab setelah nikah. mamanya pun gak suka. aku bingung dong, kok gitu. :(

    ReplyDelete
  6. Pacaran berapa lama sebelum memutuskan menikah, dan apakah pria turki bisa di percaya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. 4 bulan kenal, di minggu ke dua kenal langsung ngajak menikah. Pria Turki bisa dipercaya? Saya tidak berhak bilang seluruh pria Turki bisa dipercaya atau tidak bisa dipercaya. Tapi Alhamdulillah suami sy terpercaya. Sama saja dengan pertanyaan apakah pria İndonesia bisa dipercaya? Pria Turki sama ssaja dgn pria İndonesia, ada yg bisa dipercaya, pun sebaliknya. ;)

      Delete
  7. Assalamu'alaikum
    Hallo Mba, cerita dari Mba sangat menginspirasi jadi tambah pengen ke Turki :)
    oiya, afwan kalo boleh tau dulu Mba pertama kali kenal suami dimana?

    ReplyDelete
  8. walaykumussalam...waduh jadi tambah pengen ke Turki ya? sini mba, main...

    ReplyDelete
  9. ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪ

    laki laki turki wajib wamil atau tdk ya?
    oh ya di awal pernikahan mbak pakai bahasa apa dlm berkomunikasi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walaykumsalam. Wajib militer mba. Awal nikah kami berkomunikasi dgn bhs İnggris. Skrg bercampur tukce inggris. Contohnya begini "okulda your daughter will have goster" hahaha

      Delete
    2. Setahun ya mbak? . Waktu lamaran ataupun resepsi pernikahan suami nya datang sendiri atau brng orang tuanya? Oh iya sblm akad calon suami mengurus sendiri dokumen di kedubes atau sama mbak?

      Delete
    3. Dia dtg sendiri haha krn mertua sempat tidk setuju. Kami mengurus berdua k kedutaan.

      Delete
    4. Tidak setuju ? Terus gmn klanjutannya mbak ? Maaf banyak tanya ^^

      Delete
    5. hehehe akhirnya setujulah :D

      Delete
    6. Hihi. Oh ya mbak kalau beli tiket pesawat lebih murah bli dr turki apa dr indo ya ?

      Delete
  10. kenalin sama orang turki dong mba :P
    #seriusan ini

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Mba boleh dong berteman di facebook, nama akun nya apa nih mbak? Saya pengen curhat2 soalnya beberapa bulan lagi saya mau berumah tangga sama orang turki :D hehe
    Salam kenal ya mbak :)

    ReplyDelete
  13. assalamu alaikum mba. aku Janni dan alhamdulillah ketemu sama cowo turki yg cukup ber-akhlak. kami sudah memutuskan untuk menikah cepat atau lambat, alhamdulillah udh propose meskipun antara aku dan dia utk "syarat" aja krn kami mau menikah (meskipun blm resmi ngelamar ke ortu hehe).

    aku mau nanya dong mba, dulu waktu lamaran, sempat ada cekcok ga mba? masalah nikah sama WNA, nanti ikut diboyong ke turki, ninggalin ortu sendiri, dll? karena (maaf) aku jawa nih mba, otomatis ortu kental bgt sama tradisi2 jawa, dan aku pun anak tunggal. aku bersyukur dipertemukan dgn laki2 ber-akhlak baik sehingga aku menganggap ini "kesempatan dan jalan" yg dikasih sama Allah yg aku ga mau sia2 in. tapi aku cuma was2 nih. krn ortu yg berpegang teguh sama adat&tradisi jawa.
    lalu kalo pernah ada cekcok terkait masalah2 seperti itu mba gmana jelasin ke ortu sampai dpt restu?

    kalo ini bahasan terlalu pribadi, bisa dibalas via email ya mba.
    isnajanni@outlook.com

    stress berat nih mikirin masalah ini... hiks.
    makasih banyak sebelum nya mba :)

    ReplyDelete
  14. Cerita mba sama persis ... Dengan yang saya alami hihiii... Boleh minta email nyaa mba

    ReplyDelete