Menjadi orang Indonesia merupakan
hal yang sangat saya banggakan ketika menginjakkan kaki di negeri suami. Saking
bangganya, kadang sampai saya merendahkan budaya dan kebiasaan-kebiasaan
mereka. Kadang pula saya postingkan di status FB saya…alay banget deh FB saya
tahun 2008-2009 an, kebanyakan curhatan ga jelas dan super alay hahaha, eits
tapi kalo mau dikepoin sorry ye, sudah saya hapus semua postingan alay itu :p
its ok lah, postingan alay pan proses pendewasaan diri dalam ber fesbuk :D
Sebut saja kebiasaan orang sini
yang bangun tidur siang, tidur larut malam terutama musim panas, atau kurang
sopan santun, ada orang main lewat saja dan lain lain yang menurut saya nggak
banget plus tidak menghargai privasi orang. Semua bikin saya tidak suka dengan
Negara ini. Ditambah lagi sulitnya mendapatkan bahan makanan khas asia
tenggara, semakin menambah rasa tidak suka saya.
Saking sebelnya atau mungkin
saking bangganya akan adat dan kebiasaan sebagai orang Indonesia, saya juga
jadi sering protes ke suami. Kadang pula ini menjadi bahan pertengkaran kami
meski kebanyakan suami diam saja dan mungkin saya pikir waktu itu pasti dia
mengerti kalo saya itu benar.
Sejalan beriringnya waktu, dan
mungkin benar kata orang, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,
perlahan-lahan ada beberapa kebiasaan, atau pun sikap pribumi yang saya pikir
ternyata juga lebih baik dari Negara saya. Apalagi saya tinggal di kota kecil,
yang mungkin tingkat individualismenya jauh lebih rendah daripada kota-kota
besar. Saya juga jatuh cinta dengan system mereka, sistem transportasi, system asuransi,kesehatan
dan beberapa kebaikan pribumi yang tidak bisa saya abaikan untuk tidak saya
sukai.
Akhirnya datang suatu masa,
ketika saya merasa jauh lebih betah di sini. Ya di Negara di mana suami dan
anak saya tinggal. Apalagi dengan kondisi Negara kita yang sedang corat marut,
degedrasi moral di mana-mana, ekonomi yang katanya sedang tidak baik, kondisi
lingkungan yang tidak sehat, dan sebagainya. Kadang saya berfikir, saya ni
penghianat bangsa kali ya, apalagi sempat terbesit untuk pindah warga Negara. Apa
saya cari aman?
Ketika pulang kampong kemarin,
saya semakin merasakan ketidaknyamanan tinggal di negeri sendiri. Bawaannya
ingin cepat pulang,padahal di rumah pun kosong, suami sedang bekerja di luar
negeri. Kalopun alasannya ingin kumpul dengan suami, tentunya bukan itu.
Kembali saya berfikir kenapa saya tidak merasa nyaman, ya saya tidak nyaman
jika harus berjalan kaki di tanah air, saya juga tidak nyaman naik motor atau
angkot, saya juga tidak nyaman belanja ke pasar tradisional, saya juga
deg-degan jajan di luar karena takut dengan mikroba-mikroba, bakter, atau virus
atau apapun namanya itu yang saya pikir tersebar dengan bebas di jalan. Saya
kembali berfikir, ahh saya memang senang dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh
Negara suami saya. Saya pasti sudah jatuh cinta dengan negeri ini.
Beberapa teman bertanya
kemungkinan saya untuk tinggal di Indonesia kemudian hari dan dengan tegas saya
menjawab, jika memungkinkan saya tidak mau untuk tinggal lagi di Indonesia. Ya
Allah separah itukah saya ?
Beberapa kali saya sempat
membicarakan tentang pindah warga Negara dengan suami. Dia tidak menganjurkan
tapi juga tidak melarang, semua keputusan ada di tangan saya. Meski demikian
saya tetap berfikir ulang, karena bagaimanapun saya masih punya keluarga besar
di Indonesia.
Saya berfikir, apa dengan
melepaskan status WNI saya otomatis saya pengkhianat bangsa dan bukan bangsa
Indonesia lagi? Ditambah dengan kecintaan saya terhadap negeri ini? Apakah semua
itu telah melunturkan jati diri saya sebagai orang Indonesia?
Akhirnya saya mendapat jawaban di
suatu sore.
Ketika warga negeri ini, ada
yang menghina orang Indonesia, saya pun
marah hebat, rasanya ingin segera melabraknya. Betapa bergolaknya darah saya,
saya belum pernah merasakan kemarahan sedalam itu, rasa sakitnya menyebar
melalui aliran darah. Rasa terluka yang begitu dalam, sebagai orang Indonesia. Maka
saya mengambil keputusan, tidak akan berhubungan lagi dengan orang semacam itu
apalagi saya harus menerima bantuannya dan Alhamdulillah sampai saat ini saya
tidak pernah dibantu dia. Saya harus menjauh, dan tentunya harus berperilaku
lebih baik lagi. Apalagi yang bisa saya lakukan? Saya tinggal di negeri orang,
tentu saja tidak membawa nama saya sendiri, tapi juga asal saya, maka dengan
perilaku baiklah kemungkinan besar saya dapat menjaganya. Satu yang pasti dengan adanya peristiwa ini, setidaknya
saya tahu, saya masih orang Indonesia.
Semoga, orang Indonesia, di mana
pun berada semakin bersatu, saling mencintai, tidak saling merendahkan, dan
saling menghargai, semakin rajin bekerja, serta lebih mengutamakan persatuan.
Lihat apa yang dikatakan orang itu, bahwa kita materialistis, bahwa kita
pemalas. Kita harus buktikan bahwa kita bukan peminta-minta dan tidak suka
bermalas-malasan. I am Popi, and I am Indonesian ;)
No comments:
Post a Comment