Friday, August 28, 2015

Yessss, Saya Masih Orang Indonesia ;)

Menjadi orang Indonesia merupakan hal yang sangat saya banggakan ketika menginjakkan kaki di negeri suami. Saking bangganya, kadang sampai saya merendahkan budaya dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Kadang pula saya postingkan di status FB saya…alay banget deh FB saya tahun 2008-2009 an, kebanyakan curhatan ga jelas dan super alay hahaha, eits tapi kalo mau dikepoin sorry ye, sudah saya hapus semua postingan alay itu :p its ok lah, postingan alay pan proses pendewasaan diri dalam ber fesbuk :D


Sebut saja kebiasaan orang sini yang bangun tidur siang, tidur larut malam terutama musim panas, atau kurang sopan santun, ada orang main lewat saja dan lain lain yang menurut saya nggak banget plus tidak menghargai privasi orang. Semua bikin saya tidak suka dengan Negara ini. Ditambah lagi sulitnya mendapatkan bahan makanan khas asia tenggara, semakin menambah rasa tidak suka saya.
Saking sebelnya atau mungkin saking bangganya akan adat dan kebiasaan sebagai orang Indonesia, saya juga jadi sering protes ke suami. Kadang pula ini menjadi bahan pertengkaran kami meski kebanyakan suami diam saja dan mungkin saya pikir waktu itu pasti dia mengerti kalo saya itu benar.
Sejalan beriringnya waktu, dan mungkin benar kata orang, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, perlahan-lahan ada beberapa kebiasaan, atau pun sikap pribumi yang saya pikir ternyata juga lebih baik dari Negara saya. Apalagi saya tinggal di kota kecil, yang mungkin tingkat individualismenya jauh lebih rendah daripada kota-kota besar. Saya juga jatuh cinta dengan system mereka, sistem transportasi, system asuransi,kesehatan dan beberapa kebaikan pribumi yang tidak bisa saya abaikan untuk tidak saya sukai.
Akhirnya datang suatu masa, ketika saya merasa jauh lebih betah di sini. Ya di Negara di mana suami dan anak saya tinggal. Apalagi dengan kondisi Negara kita yang sedang corat marut, degedrasi moral di mana-mana, ekonomi yang katanya sedang tidak baik, kondisi lingkungan yang tidak sehat, dan sebagainya. Kadang saya berfikir, saya ni penghianat bangsa kali ya, apalagi sempat terbesit untuk pindah warga Negara. Apa saya cari aman?
Ketika pulang kampong kemarin, saya semakin merasakan ketidaknyamanan tinggal di negeri sendiri. Bawaannya ingin cepat pulang,padahal di rumah pun kosong, suami sedang bekerja di luar negeri. Kalopun alasannya ingin kumpul dengan suami, tentunya bukan itu. Kembali saya berfikir kenapa saya tidak merasa nyaman, ya saya tidak nyaman jika harus berjalan kaki di tanah air, saya juga tidak nyaman naik motor atau angkot, saya juga tidak nyaman belanja ke pasar tradisional, saya juga deg-degan jajan di luar karena takut dengan mikroba-mikroba, bakter, atau virus atau apapun namanya itu yang saya pikir tersebar dengan bebas di jalan. Saya kembali berfikir, ahh saya memang senang dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh Negara suami saya. Saya pasti sudah jatuh cinta dengan negeri ini.
Beberapa teman bertanya kemungkinan saya untuk tinggal di Indonesia kemudian hari dan dengan tegas saya menjawab, jika memungkinkan saya tidak mau untuk tinggal lagi di Indonesia. Ya Allah separah itukah saya ?
Beberapa kali saya sempat membicarakan tentang pindah warga Negara dengan suami. Dia tidak menganjurkan tapi juga tidak melarang, semua keputusan ada di tangan saya. Meski demikian saya tetap berfikir ulang, karena bagaimanapun saya masih punya keluarga besar di Indonesia.
Saya berfikir, apa dengan melepaskan status WNI saya otomatis saya pengkhianat bangsa dan bukan bangsa Indonesia lagi? Ditambah dengan kecintaan saya terhadap negeri ini? Apakah semua itu telah melunturkan jati diri saya sebagai orang Indonesia?
Akhirnya saya mendapat jawaban di suatu sore.
Ketika warga negeri ini, ada yang  menghina orang Indonesia, saya pun marah hebat, rasanya ingin segera melabraknya. Betapa bergolaknya darah saya, saya belum pernah merasakan kemarahan sedalam itu, rasa sakitnya menyebar melalui aliran darah. Rasa terluka yang begitu dalam, sebagai orang Indonesia. Maka saya mengambil keputusan, tidak akan berhubungan lagi dengan orang semacam itu apalagi saya harus menerima bantuannya dan Alhamdulillah sampai saat ini saya tidak pernah dibantu dia. Saya harus menjauh, dan tentunya harus berperilaku lebih baik lagi. Apalagi yang bisa saya lakukan? Saya tinggal di negeri orang, tentu saja tidak membawa nama saya sendiri, tapi juga asal saya, maka dengan perilaku baiklah kemungkinan besar saya dapat menjaganya.  Satu yang pasti dengan adanya peristiwa ini, setidaknya saya tahu, saya masih orang Indonesia.

Semoga, orang Indonesia, di mana pun berada semakin bersatu, saling mencintai, tidak saling merendahkan, dan saling menghargai, semakin rajin bekerja, serta lebih mengutamakan persatuan. Lihat apa yang dikatakan orang itu, bahwa kita materialistis, bahwa kita pemalas. Kita harus buktikan bahwa kita bukan peminta-minta dan tidak suka bermalas-malasan. I am Popi, and I am Indonesian ;)

No comments:

Post a Comment